Jangan Blok Matahari, Alihkan ke Peluang Investasi Lebih Baik
Oleh Ezaridho Ibnutama,
NHKSI Economist
INVESTORTRUST.ID – Kemenangan Presiden Terpilih Amerikan Serikat Donald Trump yang berencana mengerek tinggi tarif impor, tentunya, memicu kekhawatiran peningkatan aksi proteksionis negara-negara lain. Dalam kondisi ini, kita perlu membedah kembali Petisi Candlemaker yang ditulis Frederic Bastiat, ekonom politik Prancis.
Petisi Candlemaker yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti pembuat lilin ini merupakan artikel satir kepada Parlemen Prancis. Petisi ini mengejek aturan tarif impor proteksionis Prancis saat itu. Kebijakan Prancis ibarat mengklaim bahwa matahari telah membuat semua produsen lilin gulung tikar, bahwa Prancis yang 'mengimpor banyak cahaya' menyebabkan kebangkrutan.
“Kami menderita akibat persaingan merugikan dari pesaing yang tampaknya bekerja di bawah kondisi yang jauh lebih unggul, dibandingkan kondisi kami dalam memproduksi cahaya, sehingga membanjiri pasar domestik dengan harga sangat murah. Kemunculannya membuat penjualan kami berhenti, semua konsumen berpaling kepadanya, bahkan sebuah industri Prancis yang memiliki banyak sekali cabang langsung terhenti sepenuhnya. Pesaing ini, yang tak lain adalah matahari, menyerang kami dengan sangat kejam, membuat kami curiga ia dihasut untuk melawan kami oleh Albion (tokoh mitologi Yunani) yang licik dengan diplomasi luar biasa," demikian bunyi petisi tersebut. (Bastiat.org)
Baca Juga
Kemendag Ungkap Dampak Ekspor Indonesia, Jika Trump Terapkan Proteksionisme AS
Petisi tersebut kemudian berlanjut dengan permintaan tentang pengesahan undang-undang yang mewajibkan penutupan semua jendela, atap, jendela atap, dan semua celah lainnya untuk mencegah masuknya cahaya matahari ke dalam rumah. Hal itu bertujuan memberikan pengaruh pada peningkatan kebutuhan akan 'cahaya buatan' dari lilin dan lampu minyak.
Langkah itu juga mendorong kebutuhan yang lebih besar akan produksi lilin yang terbuat dari lemak hewani, sehingga dapat mendorong investasi dan peningkatan peternakan di Prancis. Multiplier effect berlanjut, sehingga akan melimpah produk sampingan lainnya, seperti daging, wol, kulit, dan terutama pupuk kandang, yang menjadi dasar kekyaaan pertanian.
Untuk minyak, tulisan satir tersebut menjelaskan bahwa Prancis akan menyaksikan terjadinya ekspansi dalam penanaman poppy, zaitun, dan rapeseed.
Pada titik ini, kita sebagai pembaca, memahami bahwa kritik utama Bastiat terhadap aturan impor Prancis saat itu adalah pandangan sempit untuk menyelamatkan produsen dan pekerjaan di Prancis dengan 'menutup jendela dan menutup celah' untuk melimpahnya hal-hal yang datang dari luar. Hal ini secara keliru dianggap dapat mendorong peningkatan produksi dan kemakmuran nasional.
Terlalu Berat Sebelah
Poin terakhir Bastiat mengkritisi aturan Prancis adalah bahwa tarif impor tersebut terlalu berat sebelah untuk melindungi produsen, tetapi tidak untuk konsumen. Ketika Prancis menolak kelimpahan alami dari luar demi melindungi dan meningkatkan kelangkaan buatan di dalam negeri, konsumen harus menanggung biayanya sehingga kondisi hidup semakin memburuk.
Seperti yang Bastiat tulis, "Kalian (Parlemen Prancis) tidak lagi memiliki hak untuk mengatasnamakan kepentingan konsumen. Kalian telah mengorbankan kami para konsumen, setiap kali kepentingan itu bertentangan dengan kepentingan produsen. Apakah kalian akan mengatakan bahwa cahaya matahari adalah pemberian gratis dari alam dan menolak pemberian semacam itu? Ini sama dengan menolak kekayaan itu sendiri, dengan dalih mendorong cara lain untuk memperolehnya!"
Bastiat melihat bahwa alam dan industri bekerja dalam sistem kolaboratif untuk menciptakan kelimpahan dalam budidaya dan produksi barang tertentu. Oleh karena itu, pemberian dari alam yang memungkinkan biaya produksi barang impor menjadi lebih murah, dibandingkan dengan produksi domestik yang mahal dan berproduksi rendah, seharusnya tidak dianggap merugikan negara dalam jangka panjang, terutama bagi konsumen.
Pembelajaran Indonesia
Dengan upah yang tidak mampu mengikuti laju inflasi pascapandemi Covid-19, daya beli konsumen Indonesia telah menurun. Masyarakat Indonesia semakin sering mengeluarkan uang dari kantong sendiri dan melunasi utang yang terakumulasi selama dan setelah era pandemi. Sebagian besar masyarakat telah menghabiskan tabungan mereka dari masa pandemi.
Di sisi lain, melimpahnya impor murah dari Cina (terutama tekstil) dan susu merugikan industri dalam negeri dan lapangan kerja, sehingga muncul tekanan politik untuk memberlakukan tarif tinggi pada barang impor. Kesejahteraan produksi yang beruntung di negara lain -- terjadi melalui perpaduan antara iklim dan industri -- ditolak di Indonesia, demi produksi domestik yang lebih terbatas.
Baca Juga
Indonesia Alami Defisit Perdagangan dengan China, Tapi Surplus dengan AS
Sebagai perbandingan, bangsa Eskimo menolak membeli kayu bakar dari pulau-pulau tropis yang berlimpah kayu, hanya untuk melindungi budidaya pohon kayu bakar mereka sendiri. Padahal, kapasitas dan kualitas produksinya jauh lebih rendah, tidak peduli seberapa luas lahannya mengingat kondisi suhu yang membeku di wilayah mereka.
Mereka beralasan, pekerjaan akan hilang dan tingkat pengangguran akan meningkat jika membeli dari luar. Mereka menginginkan uang tetap beredar dalam perekonomiannya.
Padahal, jika pengetatan tarif lebih tinggi dan perpanjangan keberlangsungan industri lokal yang 'tidak diuntungkan' dan tidak mampu bersaing dengan industri yang 'beruntung' di negara lain karena faktor alam terus berlanjut, maka alokasi ulang sumber daya dan waktu ke sektor yang lebih menguntungkan dan produktif akan terhambat. Proses creative destruction yang diamati oleh Joseph Alois Schumpeter (Austrian political economist) ini perlu dihentikan, karena intervensi pemerintah memberikan sinyal palsu kepada investor untuk mengalokasikan uang pada sesuatu yang tidak kompetitif, tidak menguntungkan, dan tidak produktif.
Mestinya, uang dialihkan ke peluang investasi yang lebih baik. Dengan demikian, pekerjaan dan lapangan kerja juga akan ikut berkembang, tanpa perlu campur tangan pemerintah.
| Ladang kapas. Foto: pexels/Mark Stebnicki. |
Bastiat saat itu meninggalkan Parlemen Prancis dengan sebuah pertanyaan, apakah mereka ingin rakyat menikmati manfaat dari barang gratis atau tidak? “Pertanyaannya, apakah yang kalian inginkan untuk Prancis adalah manfaat konsumsi gratis tersebut atau keuntungan dari produksi yang mahal. Buatlah pilihan secara logis: karena selama kalian melarang masuknya batu bara, besi, gandum, dan tekstil asing yang mendorong harga turun, namun betapa tidak konsistennya kalian jika mengizinkan cahaya matahari, yang harganya nol sepanjang hari!”
Jadi, tidaklah terlalu radikal untuk mengatakan bahwa kita di Indonesia harus bisa menjadi lebih logis, daripada sekadar memberlakukan tarif tinggi dan embargo demi menjaga lapangan kerja dengan mengorbankan konsumen. Kita tidak boleh menolak kesejahteraan negara lain ketika kita sendiri kurang 'beruntung' dalam beberapa aspek dibandingkan negara lain.
Kita beruntung atas energi dan pertanian, karena ekonomi Indonesia masih berfokus pada sektor primer berbasis komoditas dari kelimpahan alam kita. Namun, kita tidak bisa menjadi 'serba bisa' dalam setiap situasi. Kita harus membiarkan persaingan asing membawa lebih banyak kemakmuran bagi negeri ini. ***
Referensi
Bastiat, Frederic. “Bastiat's famous Candlestick makers' Petition.” http://bastiat.org/en/petition.html. Diakses 20 November 2024.

