India Sumbang Surplus Perdagangan Indonesia Terbesar, Cina Penyebab Defisit Terdalam
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut Cina, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Namun, Indonesia mencatatkan defisit terdalam pada perdagangan dengan Cina, sedangkan surplus terbesar dicatatkan dengan India.
“Nilai ekspor ketiga negara memberikan kontribusi sekitar 42,39% dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2024,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah di Jakarta, Rabu (19/6/2024).
Nilai ekspor nonmigas ke Cina tercatat sebesar US$ 4,73 miliar atau naik 10,50% dibandingkan April 2024. Peningkatan ini, kata Habibullah, karena didorong komoditas bahan bakar mineral; nikel dan barang daripadanya; serta besi dan baja.
Baca Juga
Inilah Komoditas Ekspor Penopang Utama Kenaikan Surplus Neraca Perdagangan
Ekspor nonmigas ke AS tercatat US$ 2,18 miliar, atau naik 24,46% dibanding April 2024. Sedangkan nilai ekspor ke India US$ 1,95 miliar, meningkat 7,21% dibanding bulan sebelumnya.
Impor Nonmigas Terbesar dari Cina
Sementara itu, impor nonmigas terbesar Indonesia berasal dari Cina, Jepang, dan AS. Impor dari China mencapai 36,34% terhadap total impor nonmigas Mei lalu.
“Impor nonmigas dari Cina mencapai US$ 6,05 miliar, atau naik dibanding April 2024 dan Mei 2023. Sedangkan impor nonmigas dari Jepang dan AS masing-masing mencapai US$ 1,04 miliar dan US$ 0,98 miliar,” kata dia.
Baca Juga
Ekspor Melonjak, Surplus Neraca Perdagangan Terbang 585,86% ke US$ 2,9 Miliar
Batu Bara Sumbang Surplus dengan India
Sumbangan surplus terbesar yang dialami Indonesia, kata Habibullah, berasal dari perdagangan dengan India, AS, dan Jepang. Surplus perdagangan dengan India didorong oleh komoditas bahan bakar mineral atau batu bara; logam mulia dan perhiasan atau permata; serta bijih logam, terak, dan abu.
Di sisi lain, Habibullah mengatakan, Indonesia mengalami defisit perdagangan besar dengan beberapa negara. Tiga defisit terdalamnya adalah perdagangan dengan Cina, Australia, dan Thailand.
“Defisit dengan China mencapai US$ 1,32 miliar. Berikutnya dengan Australia defisit US$ 0,54 miliar, dan Thailand US$ 0,32 miliar,” ujar dia.

