Ekonom Peringatkan Tren Deindustrialisasi Masih Berlanjut
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom memperingatkan tren deindustrialisasi masih berlanjut di Tanah Air. Hal ini menyebabkan ekonomi Indonesia tumbuh kurang dari 5%.
“Lapangan usaha yang berporsi besar dalam PDB (produk domestik bruto), serta menampung tenaga kerja, tidak menggembirakan pertumbuhannya. Ini yaitu sektor industri pengolahan dan pertanian,” kata ekonom senior Bright Institute Awalil Rizky, kepada investortrust.id, Jakarta, Kamis (7/11/2024).
Baca Juga
Usai Trump Dipastikan Menang, Kurs Rupiah Rebound Kamis Pagi
Awalil menjelaskan, sektor industri pengolahan hanya tumbuh 4,72% secara tahunan dan secara kumulatif tumbuh 4,27%. Ini di bawah pertumbuhan ekonomi kuartal III-2024 sebesar 4,95% secara tahunan.
Industri pengolahan selama tiga kuartal terakhir memiliki porsi sebesar 18,93% dari PDB. Angkanya diperkirakan mencapai 18,75% dari PDB sepanjang 2024.
“Dengan demikian, tren deindustrialisasi masih berlanjut,” ucap dia.
Sementara itu, pertumbuhan sektor pertanian, yang juga termasuk di dalamnya kehutanan dan perikanan, selama lima tahun terakhir selalu berada di bawah 2%. Kinerjanya jauh dari pertumbuhan ekonomi RI.
Dipengaruhi Pola Musimam
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2024 sebesar 4,95% secara tahunan. BPS menyebut PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 5.638,9 triliun dan atas harga konstan (ADHK) sebesar Rp 3.279,6 triliun.
Amalia menyebut, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2024 dipengaruhi pola musiman.
Baca Juga
Belum Pasti
Dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat berikutnya, Awalil melihat Indonesia belum bisa dipastikan akan mendapat keuntungan atau kesulitan yang berarti dalam menjalankan kebijakan ekonominya. “Berdasar pengalaman ketika dia menjabat dahulu, Indonesia tidak mengalami kesulitan tambahan dalam hal hubungan ekonomi, meski juga tidak terbilang diuntungkan,” ujar dia.
Awalil menjelaskan, sejak perekonomiannya terpuruk, AS telah menerapkan skema proteksionisme. Tidak hanya Trump, kebijakan ini juga sudah ditempuh pendahulunya Presiden AS Joe Biden.
“Amerika memang fokus pada memperbaiki ekonominya dan melindungi industri domestiknya,” kata dia.
Menurut Awalil, kondisi yang perlu dicermati dari perekonomian global ke depan justru kondisi geopolitik yang dapat memanas. Dalam berbagai kesempatan saat kampanye pilpres, Trump mengatakan akan menyelesaikan perang Rusia dan Ukraina dalam 24 jam. Trump juga menyinggung posisi Israel yang akan luluh lantak. Ia juga berjanji akan menerapkan tarif impor tinggi bagi Cna.
“Yang lebih berisiko adalah kondisi geopolitik yang dapat memanas. Kondisi itu sangat memengaruhi supply chain dan perdagangan internasional pada umumnya,” ujar dia.
Kondisi geopolitik yang memanas itu, ujar Awalil akan memengaruhi tren suku bunga tinggi. Meski demikian, keputusan suku bunga tergantung keputusan The Fed.
“Kemungkinan suku bunga tinggi masih rendah, bahkan cenderung akan diturunkan perlahan. Namun, ya tadi jika geopolitik memanas dan amat melibatkan Amerika, banyak hal bisa terjadi, termasuk soal suku bunga,” ujar dia.

