Konsumsi Rumah Tangga Kuartal III Ditopang Restoran dan Hotel
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan sebesar 4,91% secara tahunan pada kuartal III-2024, didorong oleh sektor restoran dan hotel. Konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar 53,08% terhadap produk domestik bruto (PDB) kuartal III.
“Konsumsi rumah tangga tumbuh karena didorong oleh peningkatan konsumsi untuk restoran dan hotel. Ini tercermin dari peningkatan tingkat penghunian kamar hotel (TPKH) dan perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus),” kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di kantor BPS Pusat, Jakarta, Selasa (5/11/2024).
Baca Juga
BPS Sebut Industri Tekstil Melesat 7,43%, Melebihi Pertumbuhan Ekonomi
Libur Akhir Pekan Panjang
Pada laporan BPS sebelumnya tercatat tingkat perjalanan wisnus Agustus 2024 sebesar 75,88 juta perjalanan. Pada September 2024, angkanya naik menjadi 83,36 juta perjalanan.
Kenaikan perjalanan wisnus, secara khusus pada September 2024, terjadi karena ada libur akhir pekan yang panjang dan berbagai gelaran internasional yang diadakan pada bulan tersebut. Dia menyebut terdapat tiga provinsi yang menggelar acara bertaraf nasional dan internasional, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Jakarta.
"Ketiga provinsi itu masing-masing mengalami kenaikan 22,07%, 18,93%, 21,36% secara bulanan," paparnya.
Baca Juga
Selain komponen yang berasal dari konsumsi restoran dan hotel, BPS juga mencatat konsumsi itu berasal dari sektot transportasi dan komunikasi. Kenaikan komponen ini tercermin pada penjualan sepeda motor dan penumpang angkutan, rel, laut, dan udara.
Investasi Naik
Amalia memaparkan lebih lanjut, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi juga naik 5,15% secara tahunan. Ini karena didorong oleh pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah dan swasta. Selain itu, seiring berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan aktivitas konstruksi lainnya seperti jalan tol dan infrastruktur lain.
“Selanjutnya, ada peningkatan realisasi belanja modal pemerintah. Selain itu, peningkatan impor barang modal, khususnya jenis mesin dan peralatan lainnya,” kata dia.
Ia juga menjelaskan komponen lain yang mendorong konsumsi ekspor yaitu terjadinya peningkatan permintaan global. Ini tercermin dari peningkatan nilai dan volume beberapa komoditas, seperti bahan bakar mineral atau batu bara, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya.
Amalia menyebut pertumbuhan ekspor secara total mencapai 9,09% secara tahunan. Total ekspor ini didorong oleh ekspor jasa sebesar 17,55% secara tahunan dan ekspor barang sebesar 8,23% secara tahunan.
“Ekspor jasa didorong oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara,” ujar dia.

