Minim Sentimen Domestik, Kurs Rupiah Ditutup Melemah
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah dalam perdagangan valas Jumat (25/10/2024), menjelang akhir pekan. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah melemah 36 poin ke level Rp 15.629/USD, dibanding hari sebelumnya ditutup di posisi Rp 15.593/USD.
Di pasar spot valas sebagaimana dilansir Yahoo Finance hingga pukul 15.50 WIB, mata uang Garuda bergerak melemah 60 poin (0,39%) ke level Rp 15.635/USD. Dalam penutupan perdagangan sebelumnya, kurs rupiah sempat menguat ke level Rp 15.575/USD.
"Setelah rentetan agenda pengucapan sumpah presiden dan wakil presiden baru yang disusul pelantikan jajaran kabinet, praktis kondisi domestik minim sentimen yang memengaruhi pergerakan kurs rupiah. Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia pada kuartal ketiga tahun 2024 dinilai tetap terjaga, di tengah dinamika geopolitik global dan arah pelonggaran kebijakan moneter," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Jumat (25/10/2024).
Perekonomian Indonesia masih tetap terjaga baik, lanjut Ibrahim, sejalan dengan meredanya tekanan di pasar keuangan global. Ini setelah pelonggaran kebijakan moneter dilakukan oleh berbagai negara maju, terutama Amerika Serikat dan Eropa.
Baca Juga
Kepresidenan Trump Dapat Dorong Inflasi Tinggi, Kurs Rupiah Terdampak Melemah Jumat Pagi
Ia menjelaskan, perekonomian domestik di triwulan ketiga 2024 diperkirakan tumbuh di atas 5%. Ini melanjutkan kinerja positif triwulan kedua tahun 2024, di mana dorongan dari konsumsi rumah tangga dan investasi cukup positif.
Alihkan Fokus ke Pilpres
Sementara dari sentimen eksternal, pasar cenderung mengalihkan fokus terhadap kontestasi pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat. Calon presiden dari Partai Republik Donald Trump terlihat mengungguli Wakil Presiden Kamala Harris, menurut jajak pendapat dan prediksi pasar terkini.
Baca Juga
Jadi Kepala Badan Pengelola Investasi, Muliaman Hadad: End State-nya Seperti Temasek
Selain itu, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menekan selera risiko, setelah Israel menyampaikan retorika keras terhadap Iran minggu ini. Para pedagang tengah menunggu respons Israel terhadap serangan rudal Iran pada 1 Oktober.
Repons itu mungkin melibatkan serangan terhadap infrastruktur minyak Teheran dan mengganggu pasokan, meski laporan mengatakan Israel akan menyerang target militer Iran, bukan target nuklir atau minyak. "Para pejabat AS dan Israel akan memulai kembali perundingan untuk gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza dalam beberapa hari mendatang. Upaya sebelumnya untuk mencapai kesepakatan telah gagal," sambung Ibrahim.

