Indef: Pemerintahan Prabowo Subianto Gunakan Pendekatan Basic Need di Kebijakan Ekonominya
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didin S. Damanhuri mengatakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menggunakan basic need approach untuk menjalankan kebijakan ekonominya. Didin mengatakan model pendekatan ini mengingatkannya pada kebijakan yang dilakukan pada masa Presiden Soeharto memerintah.
“Dengan pendekatan basic need pertumbuhan ekonomi 8% ingin diwujudkan oleh kabinet Prabowo,” kata Didin dalam diskusi, Ekonomi Politik Kabinet Prabowo Gibran, yang digelar INDEF, Selasa (22/10/2024).
Didin mengatakan di tengah tekanan defisit akibat penarikan pinjaman yang mendekati Rp 8.500 triliun, ruang APBN 2025 pemerintahan Prabowo dinilai terbatas untuk menciptakan platform yang ideal. Untuk itu, dia menyarankan agar Prabowo menggunakan pembiayaan non-ekonomi.
Baca Juga
“Harapannya program-program ini harus didukung pembiayaan dari kalangan BUMN dan swasta," kata Didin, dengan harapan mereka fokus pada bisnis dan anggaran yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi 8%.
Selain itu, tantangan lain yang perlu diperhatikan Prabowo yaitu investasi asing yang masuk ke Tanah Air. Dia menyebut diperlukan investasi asing yang tidak membawa energi kotor dan perspektif buruk terhadap lingkungan. “Kalau utang menjadi andalan, ia bisa menjadi faktor yang bisa menggagalkan pendekatan basic need approach,” ucap dia.
Didin berharap Prabowo dapat menutup kebocoran APBN, di tengah masalah daya beli masyarakat bawah yang menurun.
“Bahkan kelas menengah yang konservatif, turun 10 juta karena mereka menahan belanja, ditambah terjadinya deindustrialisasi yang luar biasa,” kata dia.

