Indonesia Harus Genjot Sektor Pertanian dan Manufaktur Demi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Internasional Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) FEM Universitas IPB Sahara mengungkapkan presiden terpilih Prabowo Subianto harus mengedepankan penguatan sektor pertanian dan manufaktur untuk mencapai pertumbuhan ekononi sebanyak 8%.
Dalam data yang dipaparkannya, Sahara menjelaskan, pemerintahan mendatang harus bisa mencatatkan pertumbuhan sektor pertanian sebesar 4,7%. Kemudian, sektor manufaktur sebesar 7,3%, hingga sektor jasa harus tumbuh 9,5%.
Baca Juga
Yield USTreasury 10Y Turun, Investor Pertimbangkan Prospek Ekonomi
"Agak berat, kenapa? Karena kalau data historical (2003–2023) menunjukkan bahwa sektor pertanian selama ini hanya tumbuh 3,3% saja, kemudian sektor industri hanya tumbuh 3,9%, dan sektor jasa tumbuh 6,3%,” kata Sahara dalam diskusi Gambir Trade Talk yang digelar di Jakarta, Kamis (17/10/2024).
Dia mengungkapkan, terdapat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya pada sektor pertanian. Di antaranya adalah mulai dari blue economy, green economy, circular economy, pengembangan bioeconomy, agroforestry, urban farming, dan hilirisasi komoditas pertanian.
Baca Juga
67,5% Masyarakat Ingin Ada Partai Oposisi Pemerintahan Prabowo
“Diharapkan dengan hilirisasi, nilai tambah, diversifikasi produk akan semakin meningkat dan kompleksitas dari ekspor indonesia akan semakin meningkat. Sehingga ekspor Indonesia akan lebih mempunyai nilai tambah yang tinggi dan lebih berdaya saing,” ungkapnya.
Jika pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai angka 8%, menurut Sahara, Indonesia bisa ke luar dari ancaman middle income trap atau jebakan pendapatan kelas menengah. "Dari sisi economic growth dan income projections, kami melihat kalau kita berhasil mencapai tingkat pertumbuhan ekonom 8% tersebut, sebenarnya Indonesia itu akan mampu ke luar dari middle income trap pada 2041," terang Sahara.

