KSP: Capaian Jokowi di Perekonomian, Pengendalian Inflasi Terbaik
JAKARTA, investortrust.id - Menjelang akhir masa tugas pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sejumlah capaian pembangunan di bidang perekonomian berhasil diraih, di tengah situasi global yang sedang sulit. Menurut Deputi III Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Perekonomian Edy Priyono, ada sejumlah capaian strategis Jokowi yang menjadi sorotan.
"Kita tidak pernah bilang Pak Jokowi sempurna. Tapi, ada banyak hal yang yang sudah dicapai," kata Edy kepada Investortrust, ditemui di Jakarta, Kamis (3/10/2024).
Salah satunya, Jokowi berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Produk domestik bruto (PDB) riil era Jokowi per tahun 2023, lanjut dia sebesar Rp 12.301 triliun.
Baca Juga
Terjadi Lima Bulan Beruntun, Deflasi September 0,12% Dikontribusi Makanan
Selain itu, Jokowi berhasil mengendalikan inflasi dalam negeri untuk tetap terkendali di kisaran sasaran. Menurut Edy, rata-rata inflasi selama 10 tahun kepemimpinan Jokowi sebesar 3,79%, dengan catatan di luar tahun 2020-2021 atau periode pandemi.
Tingkat inflasi dalam negeri, menurut KSP cukup baik, yakni tidak terlalu tinggi dan sebaliknya tidak terlampau rendah. "Ini (pengendalian inflasi), adalah salah satu pencapaian terbesar menurut hemat kami ya dari pemerintahan Pak Jokowi," sambung dia.
Baca Juga
Edy menegaskan, Jokowi merupakan presiden yang menaruh perhatian sangat besar terhadap pergerakan angka inflasi. Ia bercerita, pemerintah setiap pekan melakukan rapat koordinasi (rakor) pengendalian inflasi di daerah dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai stakeholders. Sempat diusulkan agar penyelenggaraan rakor dilakukan setiap satu bulan sekali, namun hal itu ditolak oleh Jokowi.
"Pak Presiden bilang tetap satu minggu sekali karena harga ini pergerakannya harus dipantau sesering mungkin. Nah, ini secara langsung maupun tidak langsung menunjukkan perhatian presiden dan hasilnya nyata ya, salah satunya adalah kita bisa bandingkan dengan negara-negara lain," ungkap dia.
Inflasi Inti Tetap Terjaga
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, data terbaru inflasi pada September 2024 tercatat masih dalam sasaran Bank Sentral. "Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) menurun dan terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%," ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, IHK September 2024 tercatat deflasi sebesar 0,12% (month to month). Dengan demikian, sehingga secara tahunan, inflasi menurun menjadi 1,84% (yoy) dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,12% (yoy).
"Inflasi yang terjaga ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah (pusat dan daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah. Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025," kata Ramdan Denny Prakoso.
Ramdan menjelaskan, inflasi inti juga tetap terjaga. Inflasi inti pada September 2024 tercatat sebesar 0,16% (mtm), lebih rendah dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,20% (mtm).
"Realisasi inflasi inti tersebut disumbang terutama oleh komoditas kopi bubuk dan biaya akademi/perguruan tinggi, seiring dengan peningkatan harga komoditas kopi global dan dimulainya tahun ajaran baru perguruan tinggi, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjangkar dalam sasaran. Secara tahunan, inflasi inti September 2024 tercatat sebesar 2,09% (yoy), meningkat dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,02% (yoy)," paparnya.
Kelompok volatile food, lanjut dia, melanjutkan deflasi. Kelompok volatile food pada September 2024 mengalami deflasi sebesar 1,34% (mtm), lebih dalam dari deflasi bulan sebelumnya sebesar 1,24% (mtm).
Deflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas cabai merah, cabai rawit, dan telur ayam ras. Penurunan harga komoditas pangan tersebut didukung oleh peningkatan pasokan, seiring dengan berlanjutnya musim panen komoditas hortikultura, serta tetap rendahnya harga input produksi untuk komoditas telur ayam ras.
"Sedangkan secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 1,43% (yoy), menurun cukup dalam dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,04% (yoy). Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap akan terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi TPIP dan TPID melalui GNPIP di berbagai daerah," tandasnya.
Sedangkan kelompok administered prices mengalami deflasi.

