BI Gelontorkan Rp 256,1 Triliun Insentif KLM, Ini Target Refocusing
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) menjelaskan telah menggelontorkan insentif yang besar, melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Nilainya menembus Rp 256,1 triliun sejak 2022 hingga pekan kedua September 2024.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung mengatakan, penerima terbesar insentif ini adalah bank yang menyalurkan kredit ke sektor hilirisasi. "Kami telah salurkan insentif likuiditas melalui KLM, ke bank-bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor tertentu," kata Juda saat Peluncuran Kajian Stabilitas Sistem Keuangan Nomor 43 di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Baca Juga
Deputi Gubernur Senior BI Destry: Banyak Keuntungan, Bank Lain Bisa Gabung CCP
Dalam paparannya, Juda menyebut, penyaluran insentif kredit ke sektor hilirisasi adalah Rp 63,72 triliun, serta ke sektor otomotif, perdagangan, listrik, gas, dan air bersih sekitar Rp 39,27 triliun. Sektor perumahan menerima insentif KLM sebesar Rp 21,55 triliun, pariwisata dan ekonomi kreatif menerima insentif KLM Rp 31,39 triliun, sektor yang menjadi bagian dari Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) sebesar Rp 54,88 triliun, sektor hijau atau green sebesar Rp 25,61 triliun, serta sektor pembiayaan Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp 19,63 triliun.
Baca Juga
Ekonom Bank Permata Sambut Baik CCP, Bantu Stabilisasi Rupiah
Ke depan, Juda mengatakan, BI refocusing terhadap tiga aspek yang akan dibiayai perbankan. Tiga aspek tersebut memiliki kriteria, pertama, sektor yang mendukung penciptaan lapangan kerja.
"Kedua, menjadi sumber pertumbuhan baru. Ketiga, sektor yang dapat meningkatkan inklusivitas, termasuk kelas menengah bawah," ucapnya.

