Ekonom Bank Permata Sambut Baik CCP, Bantu Stabilisasi Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut pengembangan Central Counterparty (CCP) yang diluncurkan Bank Indonesia diharapkan membantu menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah. Pengembangan CCP merupakan upaya pendalaman pasar uang dan pasar valas yang signifikan.
"Pengembangan CCP merupakan upaya pendalaman pasar uang dan pasar valas. Dengan pendalaman pasar uang dan pasar valas, maka diharapkan akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan stabilitas sistem keuangan," ujar Division Head Economic Research PermataBank Josua kepada investortrust.id, Rabu (2/10/2024)
Josua mengatakan, keberadaan CCP merupakan pihak di tengah (central) yang menjadi lawan transaksi bagi semua pelaku transaksi atau anggotanya. CCP bertindak sebagai penjual bagi seluruh pembeli, dan menjadi pembeli bagi seluruh penjual, sehingga menurunkan risiko kredit pihak lawan transaksi.
Pangkas Kebutuhan Likuiditas Anggota
Selain itu, Josua menyebut, CCP melakukan penjaminan atas penyelesaian transaksi pelaku pasar (anggota). Tak hanya itu, CCP nantinya dapat menerapkan pengelolaan jaminan yang aman untuk melindungi kepentingan anggota dan dirinya.
"CCP melakukan kliring dan penyelesaian transaksi dengan perhitungan bersih untuk seluruh pelaku pasar anggota CCP (multilateral netting). Hal tersebut akan meningkatkan efisiensi dengan menurunkan kebutuhan likuiditas anggotanya, sehingga mendorong peningkatan transaksi di pasar," ucap dia.
Josua menyebut, CCP ditujukan untuk mendukung transparansi pada aktivitas pasar. Jadi dengan demikian, pengembangan CCP bermanfaat untuk mendorong pendalaman pasar uang dan pasar valas guna mendukung transmisi kebijakan moneter.
"CCP juga memelihara stabilitas sistem keuangan melalui penurunan segmentasi pasar dan peningkatan efisiensi pasar," kata dia.
Potensi Turunkan Yield
Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia (BI) Donny Hutabarat menjelaskan, Central Counterparty (CCP) Pasar Uang dan Valuta Asing (PuVa) dapat menurunkan rentang imbal hasil (yield), termasuk surat berharga negara (SBN). Ini karena CCP menekan beberapa komponen risiko dalam penentuan imbal hasil.
Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia (BI) Donny Hutabarat menjelaskan, Central Counterparty (CCP) Pasar Uang dan Valuta Asing (PuVa) dapat menurunkan rentang imbal hasil (yield), termasuk surat berharga negara (SBN). Ini karena CCP menekan beberapa komponen risiko dalam penentuan imbal hasil.
“Pricing di dalam yield itu kan terdiri dari beberapa komponen. Ada namanya kredit, ada liquidity premium, ada operasional, dan segala macam,” kata Donny belum lama ini.
Donny mengatakan, CCP hadir untuk mengatasi risiko kredit, likuiditas, dan operasional. Dia menjelaskan risiko likuiditas yang muncul dalam transaksi antarbank memiliki harga. Dari harga inilah muncul asosiasi di pasar keuangan mengalami segmentasi dan fragmentasi.
“Nah dengan harga dimitigasi (CCP), itu (risiko) menjadi dikurangi. Oleh karenannya, yield yang akan didapatkan oleh para pelaku basis pasar keuangan kita akan turun,” ujar dia.

