Penurunan FFR Tak Agresif Lagi, Kurs Rupiah Dibuka Melemah Selasa
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank dibuka melemah dalam perdagangan valas Selasa (1/10/2024). Pelemahan terjadi seiring proyeksi The Fed tidak lagi agresif menurunkan Fed Funds Rate (FFR).
Dilansir Yahoo Finance, hingga pukul 09.25 WIB kurs rupiah bergerak melemah 75 poin (0,495%) terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ke level Rp 15.209/USD. Sedangkan RTI mencatat, kurs mata uang Garuda melemah terhadap greenback ke level Rp 15.204/USD, turun 69 poin atau 0,46%.
Dalam pidatonya di National Association for Business Economics, Ketua The Fed Jerome Powell menekankan bahwa Bank Sentral AS tidak mengikuti jalur yang telah ditetapkan sebelumnya. Ia menyarankan, dua kali pemotongan suku bunga seperempat poin atau 25 bps masih dapat terjadi tahun ini, jika ekonomi bergerak seperti yang diharapkan. Sementara, pada September, FFR dipangkas 50 bps ke 4,75-5,00%.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengungkapkan, investor menantikan data ekonomi utama minggu ini, termasuk laporan pekerjaan September, JOLTS, serta PMI manufaktur dan jasa ISM. "Pasar sekarang melihat sekitar 65% peluang bahwa The Fed akan memilih pemotongan suku bunga yang lebih rendah sebesar 25 bps pada 24 November," kata Andry dalam keterangan di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Sementara, baru-baru ini, indeks dolar (DXY) mempertahankan penurunannya ke sekitar 100,2, mendekati level terendah dalam 14 bulan. Hal ini karena data ekonomi AS yang lemah memperkuat ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut.
Baca Juga
Harga Emas Antam Turun Dalam Rp 12.000 per Gram di Awal Oktober 2024
"Di sisi lain, indeks harga inti PCE, pengukur inflasi pilihan Fed, naik 0,1% pada Agustus 2024, di bawah perkiraan 0,2%, sementara kenaikan tahunan sebesar 2,7% sesuai dengan perkiraan. Untuk pendapatan dan pengeluaran pribadi juga lebih lemah dari yang diharapkan bulan lalu," paparnya.
Sementara itu, laporan klaim pengangguran mingguan terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja yang tangguh.
"Stimulus tersebut menjadi kontras terhadap bursa domestik yang relatif minim sentimen positif, di tengah penantian data ekonomi seperti inflasi Indonesia dan pertumbuhan PDB kuartal III 2024," ujarnya.

