Tunggu Momentum, Jadi Alasan Utama BI Pangkas BI Rate di September 2024
JAKARTA, investortrust.id - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% pada 18 September 2024, atau beberapa saat sebelum the Fed memutuskan memangkas Fed Fund Rate (FFR) sebesar 50 bps menjadi 4,75% hingga 5%.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli Budi Winantya mengatakan keputusan memangkas BI Rate pada pertengahan September 2024 ini karena BI telah mendapat kejelasan mengenai waktu dan besaran pemangkasan FFR.
“Jadi sudah lebih jelas probabilitasnya dan lebih besar. Serta sudah kita takar,” kata Juli saat taklimat media BI, di Jakarta, Selasa (24/9/2024).
Baca Juga
Indef: Pemangkasan BI Rate Berpotensi Dorong Kredit Perbankan Tumbuh 15% Tahun Ini
Juli menjelaskan, selain waktu dan besaran FFR yang akan dipangkas the Fed, BI juga melihat aliran modal asing ke pasar negara berkembang. Aliran modal asing inilah yang membuat nilai tukar rupiah stabil dan menguat.
“Sehingga diputuskan menurunkan BI Rate,” ucap dia.
Faktor lain yang menjadi alasan BI, kata Juli, yaitu inflasi yang cenderung rendah dan stabil dalam kisaran target 2024 dan 2025. Dia menyebut inflasi sebesar 0,21% secara tahunan pada Agustus 2024 dan 2,5% plus minus 1% pada akhir tahun menjadi pertimbangan lain.
“Di tengah nilai tukar rupiah yang stabil dan terkendali, penurunan BI Rate dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut,” kata dia.
Baca Juga
Juli menyebut BI memiliki bauran kebijakan yang makroprudensial dan sistem pembayaran untuk stabilitas. “Tetapi sejak diturunkannya BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur BI pada September, kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan,” kata dia.
Dengan penurunan BI Rate ini, kata Juli, diharapkan terjadi dorongan terhadap kredit ke sektor perbankan. Dengan pembiayaan kredit ini, kata dia, diharapkan terjadi dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Dengan itu kebijakan yang ditempuh masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,7% hingga 5,5% dan ke depan sedikit lebih tinggi di 4,8% hingga 5,6%” ujar dia.

