Wapres: Keuangan Syariah Jadi Arus Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin menyebut ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian dari arus baru pertumbuhan ekonomi nasional. Pesan ini disampaikan Ma’ruf saat meluncurkan Center for Sharia Economic Development Institute for Development of Economics and Finance (CSED Indef), Selasa (3/9/2024).
“Ekonomi dan keuangan syariah menjadi arus baru pertumbuhan ekonomi nasional dan mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif, karena prinsip-prinsipnya yang mengedepankan keadilan dan pemerataan kesejahteraan dapat diterima oleh kalangan manapun,” kata Maruf.
Baca Juga
Wapres Ma’ruf Amin Berharap Tiga Hal Ini untuk Tingkatkan Ekonomi Syariah di Indonesia
Ma’ruf mengatakan peran baru ekonomi dan keuangan syariah ini terlihat dari kinerja positif sektor ini. Dia menyebut ekonomi dan keuangan syariah mampu tumbuh didorong rantai nilai halal sebesar 3,93%.
“Bahkan, sektor ini mampu menopang hampir 23% dari ekonomi nasional,” ujar dia.
Dalam lima tahun terakhir, kata Ma’ruf, peringkat ekonomi dan keuangan syariah Indonesia di tingkat global terus meningkat dari posisi ke-10 naik menjadi posisi ke-3. Dia mengeklaim Indonesia juga berhasil mempertahankan posisi ke-2 di sektor makanan halal dan posisi ke-3 di sektor fashion muslim.
“Bahkan pada tahun 2024, Indonesia berhasil meraih peringkat pertama pada Global Muslim Travel Index (GMTI)” kata dia.
Ma’ruf mengatakan perkembangan keuangan syariah yang pesat ini terlihat dari semakin bervariasinya produk-produk keuangan berbasis syariah yang dapat dinikmati masyarakat. Beberapa di antaranya, obligasi syariah, asuransi syariah, bahkan pembiayaan usaha berbasis syariah.
“Selain itu, perkembangan keuangan syariah juga ditandai dengan meningkatnya aset dan diversifikasi lembaga keuangan syariah. Aset pasar modal syariah pun mencapai hampir 20% dari total aset pasar modal nasional,” ujar dia.
Baca Juga
Ekonom senior dan pendiri Indef, Didik J Rachbini mengatakan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya mengenai instrumen bisnisnya. Dia menyebut yang lebih penting dari itu yaitu kebijakan ekonomi.
“Kenapa? Karena di negeri ini tingkat kesenjangannya luar biasa,” kata Didik.
Didik mengatakan kepemilikan tanah dan aset mengalami kesenjangan. Untuk itu, ekonomi syariah dapat diarahkan untuk mengatasi ketimpangan tersebut.

