JAKARTA, investortrust.id - Mata uang rupiah tercatat menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat dalam penutupan perdagangan Kamis (15/8/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah menguat 4 poin ke level Rp 15.687/USD.
 
Sedangkan di perdagangan pasar spot valas, dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah justru melemah 15 poin ke level Rp 15.689/USD. Pada perdagangan kemarin, kurs rupiah ditutup di level Rp 15.674/USD.
 
"Harga konsumen AS naik moderat pada bulan Juli dan peningkatan inflasi tahunan melambat menjadi di bawah 3%, untuk pertama kalinya dalam hampir 3,5 tahun. Ini memperkuat ekspektasi Federal Reserve akan memangkas suku bunga bulan depan," kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Kamis (15/8/2024)
 

Sukai Pemangkasan Lebih Kecil 25 Bps
Ia menjelaskan lebih lanjut, para pedagang lebih menyukai pemangkasan yang lebih kecil, 25 basis poin oleh The Fed pada bulan September, menurut CME Fedwatch. Alat tersebut sebelumnya mengindikasikan para pedagang terbagi atas harapan pemangkasan Fed Funds Rate 25 bps dan 50 bps.
 
"Dengan yang terakhir menyajikan prospek yang lebih baik untuk pasar logam," kata Ibrahim.

Baca Juga

Ini Tiga Negara Penyumbang Surplus dan Defisit Perdagangan Juli 2024


Ia mengungkapkan kekhawatiran investor atas potensi respons Iran terhadap pembunuhan pemimpin kelompok Islam Palestina Hamas, bulan lalu, juga mendukung harga. Tiga pejabat senior Iran mengatakan bahwa hanya kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang akan menahan Iran dari pembalasan langsung terhadap Israel, atas pembunuhan tersebut.
 
Di pasar Asia, pertumbuhan produksi pabrik Cina melambat pada bulan Juli. Sementara produksi kilang turun untuk bulan keempat, yang menggarisbawahi pemulihan ekonomi negara yang tidak merata.

"Itu juga membatasi kenaikan pasar," sebutnya.

Namun, rilis data penjualan ritel di Cina tumbuh lebih dari yang diharapkan pada Juli. Ini membuat investor sebagian besar mengabaikan hasil yang lebih lemah dari perkiraan pada produksi industri dan investasi aset tetap, sementara tingkat pengangguran Cina secara tak terduga tumbuh menjadi 4,2%.