PMI Manufaktur Ambles, Menko Airlangga Tekankan Optimisme Jadi Kunci
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut optimisme pemerintah dan industri menjadi kunci untuk menggenjot amblesnya Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia per Juli 2024.
"Sebetulnya dari segi investasi ke depan sudah jelas. Jadi tinggal optimisme sektor, dan optimisme dari pemerintah. Nah itu optimisme saja kita genjot. Karena kalau negara lain optimis masak kita tidak optimis," ujar Airlangga di kantornya, Jakarta, Kamis (1/8/2024).
Airlangga mengatakan PMI manufaktur Indonesia per Juli 2024 yang terkontraksi juga perlu dilihat secara menyeluruh. Dia mengatakan PMI manufaktur negara-negara di kawasan Asia Tenggara lain masih di atas 50.
Baca Juga
PMI Manufaktur Anjlok, Menperin Agus: Sudah Diprediksi Sejak Relaksasi Aturan Impor
"Iya kontraksi 49,7, ya tentu kita lihat situasinya karena di negara-negara lain masih di atas 50, terutama di Asean," ujar dia.
Pelemahan PMI Manufaktur pada Juli 2024 tercatat dibarengi dengan deflasi 0,18% secara bulanan atau 2,13% secara tahunan. Merespons kondisi pasar ini, Airlangga menyebut kondisi inflasi secara tahunan, atau deflasi, terjadi karena upaya Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang menurunkan inflasi.
"Inflasi kan memang kita ada tim inflasi TPIP dan TPID yang memang mau menurunkan inflasi dan Pasca Lebaran kan turun ke 2,5%" ujar dia.
Airlangga menyebut deflasi secara bulanan terjadi bukan karena daya beli masyarakat yang melemah. "Ini kan yang turun kan harga-harga pangan. Jadi memang itu untuk mengontrol daripada inflasi itu sendiri," ujar dia.
Diberitakan sebelumnya, S&P Global mencatat PMI manufaktur Juli 2024 turun ke 49,3. Pada bulan sebelumnya PMI manufaktur Indonesia tercatat berada pada angka 50,7. Posisi ini menunjukkan kontraksi pertama kalinya sejak Agustus 2021 atau setelah 34 bulan berturut-turut terus ekspansi.
Baca Juga
Kontribusi ke Manufaktur Besar, Pemerintah Kaji Insentif Pajak Mobil
Kontraksi PMI manufaktur Indonesia pada Juli 2024 dipengaruhi oleh penurunan bersamaan pada output dan pesanan baru. Permintaan pasar yang menurun merupakan faktor utama penyebab penjualan turun. Dalam hasil survei disebutkan, produsen merespons kondisi ini dengan sedikit mengurangi aktivitas pembelian mereka pada Juli, menandai penurunan pertama sejak bulan Agustus 2021.
Menanggapi hasil survei PMI manufaktur Juli 2024, tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, PMI manufaktur Indonesia terbukti turun sejak kebijakan relaksasi impor diberlakukan.
“Kami tidak kaget dan logis saja melihat hasil survei ini, karena ini semua sudah terprediksi ketika kebijakan relaksasi impor dikeluarkan,” ujar Agus, Kamis (1/8/2024).
Baca Juga
Ekspor Capai US$ 91,65 M, Menperin: Manufaktur Tulang Punggung Ekonomi Nasional
Menurut Agus, hasil survei PMI manufaktur Juli 2024 bisa membuka mata para menteri dan pemangku kepentingan akan perlunya keselarasan langkah dan pandangan dalam membangun industri dalam negeri.
“Kemenperin tidak bisa sendiri dalam hal ini. Menjaga kinerja sektor manufaktur bukan saja untuk mempertahankan agar nilai tambah tetap dihasilkan di dalam negeri, namun juga melindungi tersedianya lapangan kerja bagi rakyat Indonesia,” kata dia.
Agus mengatakan tren penurunan PMI manufaktur telah berlangsung sejak Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 8 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 36 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor pada Mei 2024.
Berturut-turut PMI manufaktur pada Mei-Juli 2024 terus menurun bila dibandingkan dengan PMI manufaktur April 2024 (sebelum pemberlakuan relaksasi impor). Pada April 2024, PMI manufaktur mencapai 52,9, kemudian turun menjadi 52,1 pada Mei 2024, lalu menjadi 50,7 pada Juni 2024, dan 49,3 di Juli 2024.

