Rehabilitasi Bencana jadi Salah Satu Strategi Redakan Inflasi Aceh ke Target Sasaran
Poin Penting
|
SABANG, investortrust.id - Provinsi Aceh menempati urutan kesembilan inflasi tertinggi secara nasional pada Oktober 2026. Inflasi di Aceh mencapai 5,05% jauh di atas jangkar dan target inflasi yang ditetapkan pemerintah sebesar 2,5% plus minus 1%. Sementara itu, inflasi bulanannya mencapai 0,13% secara bulanan.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh, Agus Chusaini menjelaskan inflasi yang terjadi di Aceh disebabkan karena cabai dan nasi dengan lauk.
“Penyebabnya, cabai, kemudian nasi dengan lauk, baik month to month maupun year to year,” kata Agus, saat taklimat media di Sabang, Kamis (5/11/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, cabai merah memiliki andil terhadap inflasi bulanan sebesar 0,26%. Sementara itu, nasi dengan lauk mendorong inflasi secara tahunan dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,59%.
Agus menjelaskan karakter nasi dengan lauk yang menyebabkan inflasi tinggi di Aceh. Sebab, nasi dengan lauk akan sulit mengalami penurunan harga ketika telah mencapai harga yang tinggi.
“Kalau dia [nasi dengan lauk] sudah naik, lupa turun. Makanya, dia [nasi dengan lauk] nggak pernah turun,” kata dia.
Inflasi Aceh akan sesuai target
Meski memiliki inflasi sebesar 5,05% secara tahunan pada Oktober 2026, Agus masih optimistis provinsi berjuluk Serambi Makkah ini akan berada di target sasaran inflasi yang diminta pemerintah.
Baca Juga
BPS: Inflasi Bulanan Oktober 2026 Capai 0,22%, dan 3,23% Secara Tahunan
“Kami masih optimis walaupun kita inflasi year to date tinggi, tapi di akhir tahun insyaallah kita akan masuk ke range target inflasi yang ditetapkan,” kata dia.
Harapan itu, kata Agus, karena sejumlah langkah yang dilakukan BI bersama pemangku kepentingan di Aceh. Salah satunya, rehabilitasi bencana banjir dan longsor yang terus dilakukan.
“Ada pengolahan lahan yang sudah dilakukan terus menerus, dengan optimalisasi lahan yang dilakukan pemerintah dari lahan yang terdampak,” kata dia.
Agus menjelaskan terdapat sekitar 43.000 hektare dari 56.000 hektare lahan yang akan diolah. Saat ini, proses mengolah lahan yang tertimbun material longsor itu baru mencapai sekitar 900an hektare.
Agus mengatakan BI melakukan uji coba penanaman bawang merah di material tercampur lumpur tersebut. Dari hasil uji coba pengolahan lahan panen bawang merah yang dihasilkan mencapai 10,3 ton per hektare.
“Dan alhamdulillah, piloting ini sudah direplikasi oleh pemerintah provinsi dengan menyalurkan 4,5 ton bibit ke kelompok petani,” ujar dia.
Selain rehabilitasi bencana, BI juga mencoba menghubungkan pasokan telur dan tempe untuk kebutuhan program makan bergizi gratis melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini dilakukan agar produsen telur dan tempe dapat beroperasi.
“Dan SPPG juga tidak mengambil di pasar,” jelas dia.
