Seni Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan bahwa Bank Indonesia akan selalu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini dilakukan karena BI memiliki mandat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“BI itu memiliki mandat utama menjaga stabilitas. Apalagi, kami punya mandat menciptakan iklim ekonomi kondusif untuk bisa mendorong pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja,” kata Destry, saat Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2026, di gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Destry menjelaskan menjaga stabilitas nilai tukar memiliki seninya tersendiri. Intervensi menjadi salah satu langkah yang digunakan BI selain kebijakan suku bunga acuan, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan insentif untuk biaya hedging, yang saat ini sedang dikembangkan BI untuk mencapai target stabilitas.
“Itu kita blend it jadi satu. Jadi, saya selalu menyampaikan bahwa kebijakan Bank Indonesia dalam rangka menjaga stabilitas rupiah itu semacam art. Kapan kita fokus pada satu tools yang satu dan kapan kita fokus kepada langkah-langkah yang lain atau instrumen yang lain,” kata dia.
Baca Juga
Ketua KSSK Masih Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 di Rentang 5,4%-5,5% Secara Tahunan
Destry memastikan bahwa BI akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas. BI akan intervensi di pasar Non Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).
“Dan sejauh ini kami melihat hasilnya cukup efektif,” ujar dia.
Destry menjelaskan bahwa stabilitas itu menjadi patokan penting bagi BI. Untuk mencapai stabilitas, BI memiliki sejumlah kebijakan dan langkah.
“Nah, jadi iklim ekonomi kondusif artinya kan harus ada stabilitas, kalau nggak stabil nggak mungkin kondusif,” kata dia.
Sebelumnya, Destry menjelaskan posisi nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan pada Oktober dan November 2026. Destry menyebut, rupiah sempat mengalami penguatan di level Rp 17.830 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir September.
“Namun, di bulan Oktober dan November mengalami pelemahan sehingga posisi di 2 November menjadi Rp 18.145 per dolar AS,” ucap dia.
Menurut Destry, pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, terdapat masalah dari berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di AS.
“Serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang,” kata dia.
Destry menjelaskan aliran investasi portofolio asing pada kuartal III-2026 mencatat net outflows sebesar US$ 0,08 miliar. Ini terutama disebabkan outflows dari pasar saham.
Pada awal kuartal IV-2026, hingga 23 Oktober 2026, arus modal asing membaik dengan catatan net inflows sebesar US$ 0,04 miliar. Arus modal asing yang masuk ditopang oleh investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
