Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp 18.183, Ini Penyebab Utama versi Analis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah memasuki periode terlemah sepanjang sejarah. Rupiah sempat ditutup di level terlemah sebesar Rp 18.183 per dolar AS pada 28 Oktober 2026. Pada tanggal yang sama, kurs referensi Bank Indonesia (BI) mempublikasikan rupiah berada di posisi Rp 18.183 per dolar AS.
Analis pasar keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah sebagian besar disebabkan harga minyak mentah yang lebih tinggi. Ini membuat Indonesia mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk impor bahan bakar. Di sisi lain, harga minyak mentah yang tinggi mendorong kenaikan harga di AS.
“Kenaikan harga di AS memberi alasan bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga pada Desember, yang dapat menarik dana asing keluar dari pasar seperti Indonesia,” kata Sana, dalam keterangan resminya, Jumat (30/10/2026).
Dengan kondisi seperti ini, BI harus memutuskan sejauh mana menjaga rupiah. Sebab, suku bunga acuan yang lebih tinggi juga akan membuat pinjaman di dalam negeri lebih mahal.
Dari catatan Sana, pada 27 Oktober 2026, kontrak berjangka suku bunga AS menunjukkan peluang 83% kenaikan suku bunga pada Desember 2026. Kenaikan tersebut akan menyusul kenaikan suku bunga the Fed pada September 2026.
Baca Juga
Ramai Bicara Rupiah 22.000/USD, Bisakah Rupiah Benar-benar ke Sana?
Sana melihat BI mengaitkan pelemahan rupiah dengan eskalasi ketegangan di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, serta sentimen investor asing terhadap saham Indonesia. Dua rapat BI berikutnya jatuh pada 17–18 November dan 15–16 Desember, sepekan setelah rapat The Fed pada Desember. Artinya, sinyal The Fed yang tegas dapat menambah tekanan bagi BI untuk menaikkan BI-Rate.
Selain tekanan eksternal, Sana juga mengamati tekanan di sisi domestik. Investor asing yang menjual saham Indonesia umumnya menukarkan kembali rupiah yang mereka terima ke dolar AS. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan jual bersih saham senilai Rp 94,87 triliun sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2026.
Sebelumnya diberitakan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan bahwa bank sentral akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Destry menyebut bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih tangguh. Akan tetapi, terdapat banyak faktor eksternal yang membuat pergerakan rupiah tertekan.
“Pergerakan rupiah itu kan sangat tergantung dari fluktuasi. Karena ini adalah market bebas dan pergerakan rupiah itu sangat tergantung juga dari supply, demand, dan persepsi,” kata Destry.
Destry menilai, penguatan rupiah yang terjadi pada hari ini terjadi karena the Fed menahan suku bunga acuannya. Seperti diketahui, the Fed menahan Fed Fund Rate atau FFR di posisi 3,75-4%.
“Jadi, banyak faktor di luar kontrol kita. Tapi, kami di BI kita sudah punya komitmen yang kuat bahwa fokus kita adalah menjaga stabilitas,” ujar dia.
Destry menjelaskan upaya menjaga stabilitas nilai tukar tersebut demi menjaga iklim ekonomi kondusif. Dengan begitu, sektor riil bisa tumbuh dan dapat membuka lapangan pekerjaan.
