Selisih Pendapatan dan Belanja di APBN Masih Positif, Tanda Penerimaan Negara Terjaga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menjelaskan bahwa keseimbangan primer, atau selisih antara pendapatan dan belanja di APBN per September 2026 tercatat ppositif sebesar Rp 125 triliun. Padahal, APBN 2026 mendesain keseimbangan primer minus Rp 89,7 triliun.
“Sementara defisit saat ini adalah Rp 319 triliun atau 1,24% dari PDB. Dan 1,24% (dari PDB) dan akan menuju ke 2,85% dari PDB,” ujar Suahasil, saat APBN KiTa edisi September 2026, di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Suminto menjelaskan bahwa keseimbangan primer yang masih surplus karena penerimaan negara masih besar dari pada belanja negara, di luar belanja bunga utang.
“Jadi keseimbangan primer positif mengandung arti penerimaan cukup untuk menutup belanja di luar belanja bunga utang,” ujar Suminto.
Suminto menjelaskan defisit sebesar Rp 319 triliun atau 1,24% dari PDB menunjukkan penerimaan negara sudah lebih rendah dibanding dengan seluruh belanja negara.
Baca Juga
Pemerintah Berharap PNBP Bisa Dikerek Lebih Tinggi agar Imbangi Subsidi yang Makin Besar
Suminto memiliki patokan. Keseimbangan primer akan tetap surplus ketika defisit APBN berada di angka 2,26% dari PDB.
“Sepanjang defisit APBN KiTa itu masih di bawah 2,26% (dari PDB), keseimbangan primer kita masih positif. Tapi, begitu APBN itu defisitnya sudah di atas 2,26% [dari PDB] keseimbangan primernya akan menjadi negatif,” ucap dia.
Berdasarkan catatan Suminto yang diterima investortrust.id, realisasi belanja bunga utang hingga September 2026 mencapai Rp 444,5 triliun. Angka ini terdiri dari bunga utang dalam negeri sebesar Rp 413 triliun dan bunga utang luar negeri sebesar Rp 31,5 triliun.
“Sebagian besar belanja bunga utang adalah untuk utang dalam negeri yang menambah likuiditas yang beredar di masyarakat, dan mendukung aktivitas ekonomi domestik,” kata dia.
