Tanggapi Fraksi DPR, Purbaya Tegaskan RAPBN 2027 Fokus Pertumbuhan dan Perlindungan Sosial
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dirancang sebagai instrumen strategis untuk memacu pembangunan nasional sekaligus menjamin perlindungan sosial di tengah dinamika ekonomi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Menkeu saat memberikan tanggapan pemerintah atas pandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap RAPBN 2027 dan Nota Keuangan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-3 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga
"APBN sebagai instrumen utama kebijakan fiskal memegang peranan yang sangat strategis, terlebih di tengah ketidakpastian dan risiko global yang hingga saat ini masih tinggi," kata Purbaya.
Menjawab pandangan Fraksi Partai Gerindra terkait efektivitas belanja negara, Purbaya menjelaskan alokasi anggaran akan difokuskan pada program berdampak luas. Di sektor pendidikan, pemerintah memprioritaskan pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, revitalisasi madrasah, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara pada sektor kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, pemerintah memperluas jaminan layanan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Naisonal (PBI JKN), penguatan fasilitas kesehatan daerah tertinggal, penyediaan rumah murah ber-sanitasi baik, serta penyempurnaan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sesuai masukan Fraksi PDI Perjuangan.
Untuk menopang kebutuhan belanja tersebut, Menkeu merespons dorongan Fraksi Partai Golkar terkait penerimaan negara. Pemerintah berkomitmen mengoptimalkan pendapatan melalui integrasi teknologi Coretax, CEISA, dan Simbara, serta diversifikasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Seusai pemaparan tanggapan pemerintah, DPR menyepakati RUU APBN 2027 beserta nota keuangan untuk dilanjutkan ke tahap pembahasan teknis.
Baca Juga
Ringkasan target asumsi makro & pembangunan RAPBN 2027 adalah sebagai berikut:
* Pertumbuhan ekonomi: 6,0% (yoy)
* Inflasi: 2,5%
* Nilai tukar rupiah: Rp17.500 / US$
* SBN 10 Tahun: 6,9%
* Harga minyak (ICP): US$ 75 / barel
* Lifting minyak & gas: 610.000 bph & 954.000 boepd
* Tingkat kemiskinan: 6,0% – 6,5%
* Pengangguran terbuka: 4,30% – 4,87%
* Rasio gini: 0,362 – 0,367.
