BI Sebut Prospek Keuangan Global Lemah, Pertumbuhan Domestik Diperkirakan 4,9-5,7%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) menggelar hasil rapat dewan gubernur (RDG) Agustus 2026. Dalam paparannya, pejabat sementara Gubernur BI, Destry Damayanti menyebut prospek keuangan global masih lemah dengan ketidakpastian pasar keuangan yang masih tinggi.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia kembali naik,” kata Destry, Rabu (19/8/2026).
Destry mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diperkirakan sekitar 3%. Sementara itu, tekanan inflasi global tetap tinggi sekitar 4,5% pada 2026 sehingga mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat.
Mantan Deputi Gubernur Senior BI tersebut melihat suku bunga kebijakan AS, fed fund rate, diperkirakan naik pada kuartal IV-2026. Sementara itu, imbal hasil UST yang naik dan diperkirakan tetap tinggi seiring menguatnya ekspektasi kenaikan fed fund rate dan defisit anggaran AS yang masih lebar.
“Ketidakpastian di pasar keuangan global, berlanjut dan menahan preferensi investor global terhadap investasi portofolio di negara emerging market dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS,” kata dia.
Baca Juga
Tantangan Domestik dan Luar Negeri, Intai Target Pertumbuhan Ekonomi di RAPBN 2027
Destry mengatakan perkembangan ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Ekonomi domestik
Destry mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu terus didorong untuk memperkuat momentum pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 tercatat 5,29% secara tahunan. Melanjutkan pertumubhan pada kuartal sebelumnya yang sebesar 5,61% secara tahunna.
Pertumbuhan tersebut banyak ditopang oleh stimulus fiskal yang berdampak terhadap meningkatnya konsumsi pemerintah dan investasi. Konsumsi pemerintah tetap tumbuh tinggi bersumber dari peningkatan belanja pegawai termasuk pembayaran gaji ke-13 serta belanja barang dan jasa terkait program MBG.
“Sementara itu, konsumsi rumah tangga tetap baik meskipun terus ditingkatkan memanfaatkan momentum kuatnya stimulus fiskal. Demikian pula ekspor, juga perlu didorong sehingga makin memperkuat struktur pertumbuhan ekonomi,” kata dia.
Ke depan, ujar Destry, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tetap baik ditopang implementasi berbagai program stimulus pemerintah dan keyakinan pelaku ekonomi yang terjaga.
Destry mengatakan bahwa BI akan terus memperkuat bauran kebijakan, baik kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Bauran kebijakan tersebut akan terus bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.
“BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9-5,7%” kata dia.

