IHSG Menguat Lebih dari 1% Menanti RDG BI dan FOMC Minutes
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (18/8/2026), di tengah penantian pelaku pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan rilis risalah rapat The Federal Reserve (The Fed).
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 11.07 WIB, IHSG menguat 1,2% ke level 6.478,85 dengan nilai transaksi mencapai Rp7,02 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan penguatan IHSG hari ini terjadi di tengah pelemahan bursa Asia dan global serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di samping itu, investor mencermati pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) dan rilis FOMC Minutes.
“Penguatan IHSG hari ini juga berjalan di tengah pelemahan bursa Asia dan global, serta pelemahan nilai tukar Rupiah. Di sisi lain, investor masih mencermati akan pengumuman suku bunga BI dan FOMC Minutes pada pekan ini,” kata Herditya, Selasa, (18/8/2026)
Senada, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai IHSG secara teknikal berhasil mencatatkan rebound solid dari MA20 untuk kedua kalinya. “Di sisi lain, volume mulai mengalami penguatan. Secara momentum bullish pada tren pergerakan IHSG masih berlaku,” ujar Nafan.
Meski demikian, Nafan memperkirakan sentimen terhadap IHSG pada Selasa (18/8/2026) akan mixed cenderung positif dengan volatilitas yang masih tinggi.
Dari eksternal, investor menantikan rilis risalah rapat The Fed pada Juli. Perbedaan pandangan di antara tiga pejabat The Fed yang menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi salah satu perhatian pasar. "Artinya, meskipun data inflasi dan tenaga kerja mulai lebih lunak, kubu hawkish di dalam The Fed belum benar-benar hilang. Akan tetapi, menurut CME FedWatch, probabilitas The Fed menahan suku bunga pada September meningkat sekitar 67%, sementara probabilitas kenaikan 25 basis poin turun menjadi sekitar 33%,” terang Nafan.
Dari sisi geopolitik, harga minyak naik lebih dari 2% pada Senin (17/8/2026), dengan Brent kembali menembus USD90 per barel setelah sebelumnya melonjak hampir 6% dalam sepekan. Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga minyak.
Baca Juga
Meski BI Rate 5,75%, Pemerintah Pastikan Bunga KPR Subsidi Tetap 5%
Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar merespons positif pidato kenegaraan dan Nota Keuangan terkait arah kebijakan fiskal RAPBN 2027. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I-2026 yang mencapai 5,45% secara tahunan (YoY) juga dinilai memperkuat optimisme terhadap pemulihan ekonomi domestik.
Penguatan rupiah serta kembali masuknya sebagian aliran dana asing ke sejumlah saham blue chip turut menjadi penopang pergerakan indeks. Nafan menilai saat ini, perhatian pelaku pasar beralih pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung Rabu (19/8/2026). Konsensus memperkirakan BI Rate akan dipertahankan di level 5,75%.
Sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah dan kondisi makro global yang lebih kondusif membuat BI belum perlu menaikkan suku bunga. Karena itu, forward guidance serta asesmen BI terhadap rupiah, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan ruang pelonggaran kebijakan ke depan akan menjadi perhatian pasar.
Pasar Menantikan Arah Kebijakan BI
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pelaku pasar keuangan dan dunia usaha kini menantikan hasil RDG BI Agustus di tengah perubahan lanskap ekonomi global dan domestik yang semakin kompleks.
Menurutnya, perhatian pasar kali ini tidak lagi hanya tertuju pada keputusan BI Rate, tetapi juga arah komunikasi kebijakan yang akan disampaikan Bank Indonesia.
“Menurut kami, fokus pasar pada RDG Agustus bukan lagi sekadar apakah BI Rate naik atau ditahan. Yang lebih penting adalah bagaimana Bank Indonesia menjelaskan langkah berikutnya setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir,” ujar Fakhrul.
Menurut Fakhrul, terdapat empat isu utama yang akan dicermati pelaku pasar.
Pertama, sinyal normalisasi SRBI dan operasi moneter. Dalam beberapa bulan terakhir, SRBI menjadi salah satu instrumen utama untuk menarik kembali arus modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Seiring membaiknya kondisi pasar keuangan, investor mulai mencari petunjuk mengenai waktu dan mekanisme normalisasi instrumen tersebut.
Kedua, pandangan Bank Indonesia terhadap nilai tukar rupiah. Menurut Fakhrul, rupiah saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih stabil dibandingkan periode tekanan pada kuartal II-2026. Namun, lingkungan global masih menyimpan sejumlah risiko, mulai dari tingginya yield US Treasury hingga ketidakpastian geopolitik dan harga energi.
Ketiga, apakah menarik capital inflow masih menjadi prioritas utama. Selama beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia secara eksplisit menjadikan masuknya modal asing sebagai bagian penting dari strategi stabilisasi rupiah. Berbagai insentif juga telah diperkenalkan untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.
Keempat, bagaimana BI membaca kondisi likuiditas perbankan. Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah dan otoritas telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang bertujuan memperkuat likuiditas sistem perbankan dan mendorong penyaluran kredit.

