Transaksi Rupiah-Yuan Melonjak 300%, Anindya Nilai Kerja Sama RI-China Makin Kuat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan antara Indonesia dan China terus menunjukkan perkembangan signifikan. Bahkan, transaksi langsung menggunakan rupiah dan yuan telah meningkat hingga 300%.
Menurut Anindya, peningkatan tersebut merupakan hasil implementasi kerja sama local currency transaction (LCT) yang dijalankan Bank Indonesia (BI) bersama otoritas moneter China. Skema ini akan memperkuat hubungan perdagangan kedua negara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Kami juga melihat bahwa selain perdagangan, juga kelihatannya Indonesia dan China dari sisi Bank Indonesia dan Bank of China, Bank Federal Reserve-nya, telah mencanangkan sesuatu yang sukses yang bernama local currency transaction," ujar Anindya dalam Indonesia-China Partnership Forum di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga
Boy Thohir dan Anindya Bakrie Yakin IHSG Tembus 9.000, Ekonom Ungkap Tiga Syaratnya
Dia menjelaskan, implementasi LCT yang semula bernilai sekitar US$ 30 miliar kini diarahkan meningkat menjadi US$ 60 miliar. Menurutnya, ini menunjukkan perkembangan yang baik dari kolaborasi kedua negara.
"Dimulai dengan US$ 30 miliar sekarang menuju US$ 60 miliar. Dan kira-kira sebulan yang lalu juga kami ke Bank Indonesia mengatakan bahwa langsung antara rupiah dan yuan transaksinya sudah naik 300%. Jadi artinya ini luar biasa," kata Anindya.
Selain transaksi menggunakan mata uang lokal, Anindya menyoroti semakin eratnya integrasi sistem pembayaran kedua negara. Dia menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia kini sudah dapat memanfaatkan QRIS saat bertransaksi di China.
"Kelihatannya Pak Dubes sebentar lagi atau sudah ya kita bisa pakai QRIS, sebentar lagi... sudah malah, bisa pakai QRIS, dan kalau ke China bawa kas/cash itu hampir tidak laku. Jadi kita mesti punya WeChat atau AliPay, tapi sekarang kita punya QRIS," sebutnya.
Anindya menilai penguatan kerja sama sektor keuangan tersebut akan menjadi fondasi penting dalam mendorong peningkatan perdagangan dan investasi Indonesia-China.
Baca Juga
Anindya: Ekspor Bernilai Tambah Dongkrak Surplus Dagang ke China Jadi US$ 5,8 Miliar
Dia menambahkan, hubungan ekonomi kedua negara kini semakin kuat. Selain perdagangan yang terus tumbuh, investasi China dan Hong Kong juga terus meningkat dan menjadi salah satu kontributor terbesar bagi realisasi investasi asing di Indonesia.
Menurut Anindya, penguatan sistem pembayaran lintas negara dan penggunaan mata uang lokal akan semakin memperkuat stabilitas transaksi bisnis sekaligus mendukung upaya kedua negara membangun kerja sama ekonomi yang lebih erat di masa mendatang.
