Purbaya Naikkan Defisit APBN 2026 Jadi 2,85% dari PDB, Penerimaan Pajak Bakal Tak Sesuai Target
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menaikkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menjadi 2,85% dari produk domestik bruto (PDB). Sebelumnya, APBN 2026 menargetkan defisit APBN sebesar 2,68% dari PDB.
“Outlook defisit APBN tercatat sebesar Rp 734,3 triliun dengan persentase sebesar 2,85% terhadap PDB,” kata Purbaya, saat menyampaikan laporan semester I-2026 dan prognosis semester II-2026 di Badan Anggaran (Banggar) DPR, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga
Defisit APBN per Mei 2026 Capai Rp 180,4 Triliun, atau 0,7% dari PDB
Dengan perubahan ini, Purbaya menyebut terjadi perubahan anggaran pembiayaan dari sebelumnya sebesar Rp 689,1 triliun menjadi Rp 734,1 triliun. “Saya yakin kita masih bisa menekan defisit ini ke bawah,” ujar dia.
Purbaya memaparkan kenaikan defisit APBN 2026 untuk mendorong kinerja perekonomian dan mendukung prioritas pembangunan nasional. Dengan target tersebut, proyeksi pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp 3.208,1 triliun, naik 1,7% dari target APBN 2026.
Pemerintah memperkirakan penerimaan perpajakan tak sesuai target. Dalam perkiraannya, penerimaan pajak mencapai Rp 2.310,8 triliun atau 98% dari target. Sementara itu, penerimaan dari kepabeanan dan cukai hanya sekitar Rp 320,6 triliun atau 95,4% dari target.
Purbaya berjanji dapat menarik pajak dengan konsisten akhir tahun. Salah satunya dengan efisiensi pegawai pajak, perbaikan Coretax, dan penyesuaian prosedur. “Kita bisa mencapai itu tanpa menaikkan tarif pajaknya atau menciptakan pajak baru,” ujar dia.
Sebagai penopang pendapatan, pemerintah menargetkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) melonjak 25,2% dari target. Artinya, pendapatan PNBP yang awalnya diperkirakan Rp 459,2 triliun naik menjadi Rp 575,1 triliun.
Baca Juga
Di Tengah Defisit Mei, Mendag Sebut Neraca Perdagangan RI Masih Ditopang Sektor Nonmigas
Di sisi belanja, Purbaya menyebut akan terjadi kenaikan belanja negara. Diproyeksikan belanja negara naik 2,6% dari target APBN 2026 menjadi Rp 3.942,4 triliun. “Outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan sebesar Rp 132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah, subsidi dan kompensasi,” kata dia.
Kenaikan terbesar disumbang oleh belanja kementerian/lembaga (K/L) yang naik 7,9% menjadi Rp 1.630,4 triliun. Sementara itu, belanja non-K/L diproyeksi ditekan hingga 96,5% dari target menjadi Rp 1.615,1 triliun.
Purbaya menyebut outlook belanja tersebut ditujukan untuk mendukung program prioritas pembangunan, menjaga stabilitas harga pangan, dan daya beli masyarakat. Selain itu, pemerintah juga ingin mendukung penyelenggaraan pemerintah daerah, penanggulangan bencana dan tambahan untuk otonomi khusus. Dukungan ini diwujudkan dalam naiknya anggaran transfer ke daerah (TKD) sebesar 0,6% dari target APBN 2026 menjadi Rp 696,9 triliun.
