Rupiah Terkoreksi ke Rp 17.952 Per Dolar Saat Inflasi AS Memanas dan Timur Tengah Bergejolak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (11/6/2026) pagi. Rupiah terdepresiasi sebesar 0,04% menjadi Rp 17.952 per dolar AS pada sesi pembukaan pukul 09.05 WIB, berdasarkan Bloomberg.
Beberapa mata uang di Asia juga bergerak melawan arah penguatan. Yuan China melemah 0,03%, won Korea Selatan melemah 0,42%, dan ringgit Malaysia melemah 0,04%.
Baca Juga
Menkeu Purbaya Janjikan Rupiah Menguat Bertahap pada Semester II-2026
Sementara itu, sejumlah mata uang di Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,02%, dolar Hong Kong menguat 0,01%, peso Filipina menguat 0,12%, dan dolar Singapura menguat 0,02%, serta baht Tailan yang menguat 0,21%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat indeks dolar AS (DXY) sedikit melemah ke 99,8 setelah data inflasi AS secara umum sesuai dengan ekspektasi pasar. Dia menyebut ada kejutan penurunan pada inflasi inti bulanan.
Tingkat inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2% pada Mei 2026, tertinggi sejak April 2023, meningkat dari 3,8% pada April dan sesuai dengan perkiraan pasar. Ini merupakan kenaikan inflasi utama selama tiga bulan berturut-turut.
Kenaikan inflasi tahunan AS didorong oleh lonjakan biaya energi sebesar 23,5% akibat guncangan harga energi yang dipicu konflik dengan Iran. Harga bensin melonjak 40,5% setelah sebelumnya naik 28,4%, sementara harga bahan bakar minyak meningkat 58,9% dibandingkan 54,3% pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi inti AS, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang berfluktuasi, naik menjadi 2,9% secara tahunan pada Mei 2026, level tertinggi sejak September 2025. Faktor pendorong utama antara lain biaya perumahan, jasa transportasi, layanan kesehatan, dan pakaian.
Baca Juga
Rupiah Fluktuatif, JFX Catat Lonjakan Transaksi Emas dan Siapkan 46 Pasangan Mata Uang Asing
Dengan data ini, kata Andry, pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini, meskipun kenaikan sebesar 25 bps pada Desember masih sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar.
Hal ini karena ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi, dengan AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan. Presiden AS, Donald Trump memperingatkan bahwa Iran membutuhkan waktu yang "terlalu lama" untuk merundingkan kesepakatan damai dan kini akan "membayar harganya".
Pernyataan tersebut menimbulkan keraguan terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang rapuh serta prospek tercapainya perjanjian jangka panjang.

