Rupiah Melemah ke Rp17.900 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja Amerika Serikat
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,34% ke level Rp17.900 per dolar AS pada pukul 09.16 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi seiring pergerakan sejumlah mata uang Asia lainnya seperti yuan China, ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina yang juga berada di zona merah. Sebaliknya, dolar Singapura dan yen Jepang menguat terhadap dolar AS.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Harga Sapi Perah Bunting Tembus Hampir Rp50 Juta per Ekor
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 0,99 basis poin menjadi 4,44%. Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak datar hingga sedikit melemah di kisaran 99,1.
Menurut Andry, pergerakan dolar AS ditopang oleh penurunan moderat harga minyak, meskipun sentimen pasar masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Israel dan Hizbullah telah sepakat menghentikan serangan satu sama lain di Lebanon. Di sisi lain, pembicaraan antara AS dan Iran masih berlangsung.
Baca Juga
Yield SRBI dan SBN Meningkat, Capital Outflow Juga Meningkat
"Investor kini menantikan sejumlah data penting pasar tenaga kerja AS yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan (jobs report), yang diperkirakan akan membantu membentuk ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve di bawah ketua baru, Kevin Warsh," ujar Andry.
Pelaku pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar 17 basis poin hingga akhir tahun. Proyeksi tersebut mengindikasikan probabilitas sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan satu kenaikan penuh diperkirakan terjadi pada Maret 2027.
Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat meningkat 731.000 menjadi 7,618 juta pada April 2026. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak November 2024 dan jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 6,88 juta.
Harga Emas Terkoreksi
Di pasar komoditas, harga emas turun ke bawah US$4.500 per ons dan melanjutkan pelemahan sejak awal pekan.
Baca Juga
Penurunan harga emas terjadi setelah data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Data yang dirilis pada Selasa menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua tahun, sementara jumlah pemutusan hubungan kerja menurun, menandakan kondisi pasar tenaga kerja masih cukup solid.

