Harga Emas Naik, Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas menguat pada perdagangan Selasa (2/6/2026) setelah pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah. Sentimen pasar dipengaruhi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sehingga memunculkan harapan meredanya konflik sekaligus memengaruhi arah aset safe haven, seperti emas.
Harga emas berjangka Amerika Serikat naik 0,3% dan ditutup pada US$ 4.519,90 per troy ounce. Kenaikan tersebut terjadi di tengah sikap hati-hati investor yang masih menunggu kepastian perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Analis pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, mengatakan pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi perkembangan harga minyak, imbal hasil obligasi Pemerintah AS, dan pergerakan dolar AS yang semuanya berkaitan erat dengan situasi di Timur Tengah. Menurutnya, pasar emas masih kehilangan arah karena investor belum memperoleh katalis yang cukup kuat untuk mendorong tren baru.
Baca Juga
“Agar saya kembali optimistis terhadap emas, kita perlu melihat setidaknya momentum kenaikan yang menunjukkan bahwa pembeli kembali. Namun, saat ini, pasar tanpa arah, dengan para pelaku pasar sebagian besar menunggu petunjuk, terutama dari Timur Tengah,” ujarnya dikutip CNBC.
Perhatian pasar tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kantor berita Mehr melaporkan bahwa Iran sedang meninjau proposal kesepakatan dari AS yang bertujuan mengakhiri konflik antara kedua negara.
Laporan tersebut muncul setelah Trump menyatakan bahwa pembicaraan menuju kesepakatan masih berlangsung. Harapan terhadap kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik menjadi faktor yang terus diperhatikan investor dalam menentukan posisi investasi mereka.
Sejak konflik meningkat, harga emas menghadapi tekanan karena lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa suku bunga dapat bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Di satu sisi, emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun di sisi lain, logam mulia tersebut cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen keuangan lainnya.
Menunggu Sinyal dari Data Ekonomi AS
Selain faktor geopolitik, investor juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat pada pekan ini. Data tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai langkah berikutnya dari Federal Reserve, bank sentral AS.
Laporan ketenagakerjaan ADP dijadwalkan dirilis pada Rabu, sedangkan laporan ketenagakerjaan resmi Pemerintah AS akan diumumkan pada Jumat (5/6/2026). Kedua data tersebut sering digunakan pasar untuk mengukur kekuatan ekonomi dan potensi perubahan kebijakan suku bunga.
Baca Juga
Harga Emas Turun Seusai Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi
Apabila pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan kuat, Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Sebaliknya, pelemahan data dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Sementara itu, Commerzbank merevisi proyeksi harga emas pada akhir tahun ini menjadi US$ 4.800 per troy ounce dari perkiraan sebelumnya sebesar US$ 5.000 per troy ounce. Meski memangkas target jangka pendek, bank asal Jerman tersebut tetap mempertahankan proyeksi harga emas sebesar US$ 5.200 per troy ounce pada akhir 2027. Commerzbank menilai faktor-faktor struktural yang selama ini menopang harga emas masih tetap kuat.
“Selain perkiraan penurunan harga emas, melemahnya permintaan industri terhadap perak juga mengindikasikan harga perak yang sedikit lebih rendah,” tulis Commerzbank dalam laporannya.

