BI Rate Diprediksi Naik ke 5% di Semester I 2026 demi Jaga Rupiah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tekanan hebat yang menghantam nilai tukar rupiah diprediksi akan memaksa Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif. PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan adanya ruang kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin hingga menyentuh level 5% pada semester pertama tahun 2026 ini.
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengungkapkan bahwa ketidakpastian global yang memicu arus modal keluar (outflow) dan menyusutnya cadangan devisa menjadi alasan utama perlunya revisi kebijakan.
"Di tahun 2026 ini kemungkinan ruang kenaikan BI rate itu ada. Jadi kami proyeksi kemungkinan akan ada kenaikan 25 basis poin," ujar Faisal dalam acara Media Brieifing Virtual PIER Economic Review Q1 2026, Selasa (12/5/2026).
Hingga 11 Mei 2026, mata uang Garuda tercatat telah melemah sekitar 4,5% secara year-to-date (ytd), bahkan sempat menyentuh angka psikologis baru di level Rp 17.500 per dolar AS. Berdasarkan tren historis, BI biasanya tidak tinggal diam saat depresiasi Rupiah sudah melampaui ambang batas tertentu.
"Karena biasanya kalau kita lihat secara historikal, biasanya BI itu kalau sudah rupiah melemah 3% ke atas, itu sudah ada potensi bisa kenaikan," ungkap Faisal.
Baca Juga
Bank Indonesia Kembali Pertahankan BI Rate 4,75% demi Stabilitas Rupiah dan Inflasi
Selain faktor kurs, kerentanan neraca pembayaran Indonesia juga menjadi sorotan. Menyusutnya surplus perdagangan yang dibarengi potensi defisit transaksi berjalan (current account deficit) memaksa cadangan devisa bekerja ekstra keras.
Data Permata Bank menunjukkan cadangan devisa nasional telah tergerus sebesar US$ 10,27 miliar sejak awal tahun, menyisakan posisi US$ 146,2 miliar per April 2026.
“Current account yang defisit itu harus 'dibayar' dengan financial account yang surplus. Kalau dua-duanya defisit, maka cadangan devisa akan menurun. Dan itu yang terjadi saat ini," imbuh Faisal.
Meski inflasi domestik saat ini masih terkendali di bawah 3%, risiko imported inflation (inflasi akibat barang impor yang mahal) membayangi perekonomian nasional. Kenaikan harga energi global serta tekanan biaya di tingkat produsen diprediksi akan segera berdampak pada harga di tingkat konsumen jika stabilitas kurs tidak segera dipulihkan.

