Bank Mandiri Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh hingga 5,5% di Kuartal II 2026
JAKARTA, investortrust.id - Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina memproyeksikan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan tetap tumbuh resilien meskipun dibayangi oleh tren perlambatan ekonomi global. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 akan berada di kisaran 5,1 hingga 5,5%.
Dian menjelaskan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi nasional masih akan ditopang oleh kekuatan domestik yang solid. Hal ini terlihat dari performa pada awal tahun yang menunjukkan kontribusi signifikan dari berbagai sektor utama.
Menurut Dian, ada dua variabel kunci yang terus mendominasi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Selain itu, belanja pemerintah juga menunjukkan peran vital sebagai penyangga ekonomi.
"Kita melihat kontribusi terhadap perekonomian tetap didominasi oleh dua variabel utama ya, yaitu konsumsi rumah tangga dan juga investasi di sini yang cukup tinggi. Nah, kalau teman-teman lihat, teman-teman wartawan lihat, belanja pemerintah kontribusinya juga tinggi ya di kuartal satu sesuai dengan pertumbuhannya yang signifikan ya. Artinya tahun 2026 kita mungkin masih melihat ekonomi Indonesia tetap tumbuh dengan resilien," ujar Dian dalam acara Mandiri Macro & Market Brief 2Q26 Indonesia Economic Outlook yang digelar secara virtual di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Baca Juga
Menko Airlangga Ungkap Pertumbuhan Ekonomi RI Tertinggi di G-20, Lampaui China dan AS
Dian menambahkan bahwa kebijakan fiskal memegang peranan penting dalam menghadapi guncangan ekonomi dunia.
"Peran pemerintah, peran belanja, akselerasi belanja fiskal menjadi penting di sini sebagai shock absorber. Jadi kita melihat ada peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di kisaran 5,1 sampai 5,5% di kuartal kedua tahun 2026 ini," ungkap Dian.
Meski optimis, Bank Mandiri memberikan catatan terkait potensi melandainya pertumbuhan pada periode setelah kuartal kedua. Hal ini disebabkan oleh hilangnya momentum musiman seperti hari raya, serta mulai menurunnya beberapa indikator keyakinan konsumen.
"Ada beberapa faktor yang katalis pertumbuhan ekonomi yang tidak berulang lagi ya di Q2, Q3 atau Q4 seperti misalnya periode lebaran tentunya. Dan ini artinya pertumbuhan di kuartal kedua mungkin akan melandai, ya tapi kita melihat masih ada dukungan ya dari berbagai kebijakan baik dari sisi moneter, makroprudensial, maupun fiskal yang sifatnya akomodatif," jelas Dian.
Lebih lanjut, Dian juga menyoroti perlunya kewaspadaan terhadap sentimen global yang mulai memengaruhi persepsi masyarakat di dalam negeri.
"Penjualan ritel melambat, indeks keyakinan konsumen juga menurun ya. Memang sentimen terkait faktor global ini menjadi sesuatu yang mempengaruhi pada akhirnya ya persepsi masyarakat, confidence masyarakat, sehingga ini harus kita antisipasi ke depan gitu ya," tegasnya.
Di sisi lain, terdapat kabar positif dari sektor investasi. Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment/FDI) menunjukkan pemulihan yang kuat dan mulai mengungguli porsi investasi domestik. Tren ini juga diikuti dengan perbaikan pada rasio penyerapan tenaga kerja.
"FDI ini kembali tumbuh positif dan porsinya kontribusinya juga imbang, tapi agak lebih besar sedikit dibandingkan domestic investment. Nah, kita lihat juga job creation ratio ya, penyerapan tenaga kerja dari satu triliun investasi gitu ya, itu mulai ada peningkatan sedikit ya di awal tahun 2026," kata Dian.
Baca Juga
Indef Soroti Paradoks Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Waspadai Kebijakan Publik yang 'Misleading'
Lebih jauh, Dian berharap tren positif pada sektor investasi dan penyerapan tenaga kerja ini dapat terus dipertahankan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional hingga akhir tahun.
"Nah, harapannya tentunya ke depan ini kita bisa terus pertahankan gitu ya dari sisi investasi," imbuhnya.

