UOB Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2% pada 2026, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Bank UOB Indonesia, bank asal Singapura memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,2% pada 2026, inflasi rata-rata 2,5%, defisit transaksi berjalan sekitar 1,6% terhadap produk domestik bruto (PDB), serta defisit fiskal APBN sekitar 2,8% dari PDB.
Ekonom UOB menilai kebijakan pro-pertumbuhan yang ditempuh pemerintah dan bank sentral pada 2026 mampu menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Namun, perlambatan permintaan domestik dan tekanan eksternal membuat laju ekspansi belum sepenuhnya optimal.
Dalam paparan riset bertajuk Pro-growth policy to support economy, but where’s the demand? pada Februari–Maret 2026, ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menjelaskan bahwa ketidakpastian global memang sudah turun dari puncaknya, tetapi masih berada pada level tinggi akibat dinamika perdagangan dan kebijakan moneter internasional.
Baca Juga
Konsumsi Berkontribusi 54% ke PDB, Posisi Kelas Menengah Makin Krusial
UOB mencatat indeks ketidakpastian global masih dipengaruhi tensi geopolitik, perang dagang, hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Pemerintah AS yang menghadapi kebuntuan anggaran dinilai memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan kembali memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026. “Uncertainty index memang sudah off record high, tapi tetap elevated,” kata Enrico pada riset tersebut dalam diskusi media bertema “How Can the Middle Class Build Resiliency in Economic Volatility” di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Di kawasan ASEAN, prospek pertumbuhan tetap positif setelah kinerja kuat pada 2025. Indonesia mencatat pertumbuhan PDB 5,11% sepanjang 2025. Pada kuartal IV-2025, ekonomi tumbuh 5,39% secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar 5,10% dan menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022. Secara kuartalan, PDB naik 0,86% dan menunjukkan perbaikan momentum. Sektor manufaktur memimpin pertumbuhan, sementara pertambangan mengalami penurunan.
Untuk 2026, UOB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2%. Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh lebih lambat dibanding periode sebelum pandemi. Rata-rata pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada 2016–2019 mencapai 5,01%, sedangkan pada 2023–2025 hanya 4,89%. Sementara itu, rata-rata pertumbuhan PDB relatif stabil di kisaran 5%.
Baca Juga
Kelas Menengah Turun, UOB Soroti Perubahan Perilaku Finansial dan Strategi Investasi
Data menunjukkan belanja nasional kelompok menengah atas turun 0,1% pada 2024, sementara pendapatan kelompok ini justru tumbuh lebih lambat dibanding kelompok bawah. Kelompok berpendapatan rendah tetap tumbuh stabil, tetapi kontribusinya terhadap total permintaan belum cukup besar untuk mendorong akselerasi ekonomi. “Ini adalah middle-income squeeze affecting sluggish demand,” tulis UOB.
Dari sisi kebijakan, posisi fiskal 2025 dinilai tetap terjaga dan akan tetap ekspansif pada 2026 tanpa melampaui batas defisit 3% terhadap PDB sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Defisit fiskal 2025 tercatat sekitar 2,92% terhadap PDB dan diproyeksikan berada di kisaran 2,8–2,9% pada 2026.

