Rupiah Perkasa di Tengah Redanya Ketegangan Iran-AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (6/5/2026), didorong meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan turunnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Penguatan ini mencerminkan sentimen pasar yang mulai membaik di tengah ekspektasi stabilnya kebijakan moneter global.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.06 WIB, mata uang Garuda menguat 0,22% ke posisi Rp 17.385 per dolar AS. Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga terapresiasi terhadap dolar AS.
Yen Jepang naik 0,13%, ringgit Malaysia menguat 0,25%, peso Filipina bertambah 0,31%, baht Thailand naik 0,19%, dan dolar Singapura menguat 0,16%. Sementara itu, yuan China juga terapresiasi 0,14%.
Baca Juga
Rupiah Catat Pelemahan Terdalam Sepanjang Sejarah, Tembus Rp 17.408 per US$
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro mengatakan sentimen positif dipicu penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun sebesar 1,41 basis poin menjadi 4,42%. Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya optimisme pasar bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi tercapai.
“Ini setelah Washington menyatakan penghentian operasi ofensif terhadap Iran, menegaskan kembali gencatan senjata, serta menghentikan upaya membantu kapal-kapal yang terjebak keluar dari Selat Hormuz,” ujar Andry.
Ia menilai perkembangan ini memberi sinyal meredanya tekanan geopolitik yang sebelumnya sempat mendorong investor global mencari aset aman seperti dolar AS.
Andry mengatakan gencatan senjata saat ini terlihat cukup bertahan setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyampaikan dua kapal komersial AS berhasil melewati Selat Hormuz dengan dukungan militer. Meski demikian, ia menegaskan kondisi kawasan masih belum sepenuhnya stabil. “Namun, situasi tetap rapuh,” kata dia.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang mengangkut sebagian besar distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan tekanan inflasi, termasuk bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Meredanya risiko di kawasan itu memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset negara berkembang, termasuk rupiah.
Pasar Pantau Sikap The Fed
Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve (The Fed) secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Pasar saat ini memperkirakan sekitar 50% peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada awal 2027, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek inflasi Amerika Serikat.
Baca Juga
Rupiah Terkapar saat Ekonomi Tumbuh 5,61%, Gubernur BI Ungkap 2 Penyebabnya
Data Institute for Supply Management Services Purchasing Managers Index atau ISM Services PMI, indikator aktivitas sektor jasa AS, tercatat turun dari 54 pada Maret 2026 menjadi 53,6 pada April 2026.
Meski turun, aktivitas bisnis justru naik 2 poin ke level 55,9. Kenaikan ini mencerminkan ketahanan ekonomi Amerika Serikat selama dua bulan terakhir meskipun konflik Timur Tengah sempat memicu lonjakan biaya energi.

