Redanya Konflik AS-Iran Picu Penguatan Bitcoin
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin kembali menunjukkan tren positif, dengan kenaikan 0,9% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 71.608,81 pada Jumat (10/4/2026), pukul 15.00 WIB. Kenaikan ini terjadi siring meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memicu reli pada berbagai aset berisiko termasuk saham dan kripto.
Kabar gencatan senjata sementara antara AS dan Iran selama dua minggu pada awal April 2026 menjadi katalis utama. Kondisi ini menurunkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik dan mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko.
Dampaknya terlihat. Indeks S&P 500 tercatat naik 1,9%, sementara Bitcoin menunjukkan korelasi tinggi sebesar 0,88% terhadap indeks tersebut. Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai, pergerakan Bitcoin saat ini semakin mencerminkan dinamika makro global.
“Reli Bitcoin saat ini lebih mencerminkan perubahan sentimen makro global, terutama meredanya risiko geopolitik. Dalam situasi seperti ini, Bitcoin bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya, bukan didorong oleh faktor fundamental internal semata,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga
Bitcoin Stabil di Atas US$ 71.000 di Tengah Risiko Resesi AS dan Konflik Iran
Selain sentimen global, kenaikan harga juga diperkuat oleh faktor teknikal dan aktivitas di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, terjadi likuidasi posisi short senilai US$ 427 juta yang memicu aksi beli paksa.
Momentum ini semakin kuat setelah Bitcoin menembus level Fibonacci di kisaran US$ 71.515. Indikator RSI 7 hari berada di level 67,39, menunjukkan tren bullish namun belum memasuki zona jenuh beli.
“Likuidasi di pasar derivatif menciptakan tekanan beli tambahan yang mempercepat kenaikan. Ditambah dengan breakout di level teknikal kunci, ini memberikan validasi bahwa tren naik masih memiliki kekuatan, setidaknya dalam jangka pendek,” kata Fyqieh.
Baca Juga
Dari sisi makroekonomi, data inflasi AS turut memberi sentimen positif. Inflasi PCE Februari tercatat 2,8% secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar, sementara inflasi inti berada di bawah 3%.
Namun, perhatian kini tertuju pada rilis inflasi CPI Maret yang diperkirakan naik ke 3,3%. Data ini dinilai krusial karena mencerminkan dampak konflik geopolitik terhadap harga, khususnya energi.
“Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, maka narasi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dan bisa menekan Bitcoin. Sebaliknya, data yang lebih rendah dapat membuka ruang bagi penguatan lanjutan,” ucap Fyqieh.
Outlook: naik, tapi masih rapuh
Dalam jangka pendek, Bitcoin berpotensi melanjutkan kenaikan selama mampu bertahan di atas US$ 71.500. Jika level ini terjaga, harga berpeluang menguji resistance di kisaran US$ 72,545 hingga US$ 73.500.
Namun, risiko koreksi tetap terbuka, terutama jika gencatan senjata tak bertahan atau ketegangan geopolitik kembali meningkat. Dalam skenario tersebut, Bitcoin bisa turun ke area support sekitar US$ 68.700.
Fyqieh menekankan bahwa stabilitas makro menjadi faktor kunci. Tren saat ini memang bullish, tapi sangat bergantung pada faktor eksternal. “Investor perlu tetap waspada terhadap perubahan sentimen yang bisa terjadi dengan cepat,” ujarnya.

