Tottenham Hotspur Kalah Lagi, Masa Depan Thomas Frank Semakin Suram
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Thomas Frank menegaskan posisinya sebagai nakhoda Tottenham Hotspur belum berada di ujung tanduk, meski timnya terus terpuruk di Liga Premier. Kekalahan 1-2 dari Newcastle United di kandang, Rabu (11/2/2026) dini hari WIB, memperpanjang rekor tanpa kemenangan Spurs menjadi delapan laga beruntun.
Hasil tersebut menjadi kekalahan ke-11 Tottenham musim ini dan membuat klub London Utara itu hanya berjarak lima poin dari zona degradasi. Situasi itu memicu kemarahan suporter, yang meluapkan kekecewaan lewat siulan panjang seusai laga di Tottenham Hotspur Stadium.
Meski tekanan kian besar, Thomas Frank mengklaim sudah mendapat jaminan dari pemilik klub. “Saya berbicara dengan mereka kemarin, jadi tidak,” kata pelatih asal Denmark itu saat ditanya TNT Sports soal ancaman pemecatan.
Baca Juga
Napoli Tersingkir Dari Coppa Italia Lawan Como, Antonio Conte Murka
Thomas Frank memahami kemarahan publik, namun menegaskan persoalan tim bukan hanya tanggung jawab satu orang. “Hal paling mudah adalah menunjuk saya. Itu bagian dari pekerjaan. Saya akan bekerja siang dan malam untuk membalikkan keadaan, tapi ini bukan soal satu individu. Kami semua harus berkembang,” ujarnya.
🐦 Social Media Post
URL: https://twitter.com/SpursOfficial/status/2021356266346443050?ref_src=twsrc%5Etfw
Kepada BBC Radio 5 Live, Thomas Frank juga merespons reaksi keras suporter. “Saya mengerti frustrasi mereka. Ini bukan hal baru. Kami harus kuat secara mental dan fisik. Ini kerja tim, bukan hanya satu orang,” katanya.
Awal musim sempat menjanjikan, ketika Tottenham mengoleksi 10 poin dari lima laga pertama di Liga Premier di bawah Frank. Namun setelah itu, performa Spurs anjlok drastis dengan hanya meraih 19 poin dari 21 pertandingan berikutnya.
Situasi ini membuat masa depan Thomas Frank memang disebut-sebut makin rapuh. Sebagian besar suporter menginginkan pergantian pelatih, sementara dukungan internal juga dikabarkan mulai melemah. Kekalahan dari Newcastle dinilai bisa menjadi titik krusial yang memicu evaluasi besar-besaran di level manajemen.
Beruntung, dewan klub sejauh ini masih memilih bertahan dengan Thomas Frank. Mereka menilai sang pelatih menghadapi situasi yang tidak ideal, mulai dari badai cedera hingga kebutuhan perombakan skuad, terutama setelah kepergian dua sumber gol utama, Harry Kane dan Son Heung-min.
Manajemen juga melihat masalah kepemimpinan di dalam tim, yang mendorong perekrutan pemain berpengalaman seperti Conor Gallagher dan upaya mendatangkan Andy Robertson. Stabilitas di kursi pelatih juga dianggap penting dalam jangka panjang.
Namun, sumber internal mengungkapkan bahwa Tottenham tetap menyiapkan rencana darurat jika keputusan berat harus diambil. Jika Frank akhirnya dilepas, Spurs memiliki jeda 12 hari sebelum laga berikutnya melawan Arsenal pada 22 Februari, waktu yang cukup untuk menyiapkan pengganti.
Tekanan terhadap Thomas Frank kini berada di titik kritis. Pertanyaannya tinggal satu: apakah Tottenham akan bertahan dengan keyakinan mereka, atau justru menyerah pada tekanan hasil buruk yang tak kunjung berhenti.
Baca Juga
Ada Apa dengan Chelsea? Gagal Pertahankan Keunggulan Lawan Leeds United

