Ubah Limbah Jadi Barang Cantik, Semomondeezy Bergerilya di Mancanegara
JAKARTA, investortrust.id – Pernak-pernik Semomondeezy Handmade karya tangan Mira Lismawati terus bergerilya untuk memperluas pangsa ekspornya. Semomondeezy merupakan brand yang bergerak di bidang aksesoris fesyen, berbahan baku limbah.
Produk yang ditawarkan meliputi pouch, tas sling, bag charm, anting-anting, gelang, dan bros. Keunikannya terletak pada proses pembuatannya yang sepenuhnya handmade, sehingga setiap produk memiliki sentuhan eksklusif dan terbatas. Untuk harga jualnya bervariasi mulai Rp 50.000 hingga Rp 1 juta khusus untuk barang custom.
Produk yang paling banyak diminati adalah aksesoris kecil seperti gelang, bros, dan bag charm. Pelanggan menyukai variasi aksesoris ini karena dapat digunakan untuk mempercantik tas mereka dengan sentuhan personal.
Hadir di BRI UMKM EXPO(RT) 2025 di ICE BSD City, Tangerang, pengrajin perhiasan dan pemilik Semomondeezy Handmade tersebut membuktikan usaha yang dia rintis bisa terjual ke pasar yang lebih luas.
Pada 2009, saat ia mulai menekuni hobinya, tak pernah terlintas bahwa satu dekade kemudian karyanya akan masuk pameran dagang internasional ternama New York (NY) Now Summer di Amerika Serikat (AS).
Sumber: Instagram/Semomondeezy
Baca Juga
Mudahkan Perjalanan Mudik Antarpulau, BRI Rilis Fitur Baru Pemesanan Tiket Kapal Lewat BRImo
Selama empat hari pameran pada pertengahan Agustus 2019, perempuan kelahiran 4 April 1984 ini berhasil mendapatkan pembeli atau agen penjualan yang menjual produk-produknya ke pasar Amerika. Selain itu, karyanya juga merambah Dubai, Meksiko, Irlandia, Italia, Slowakia, Afrika Selatan, dan Australia.
“Saat ini saya sedang mempertimbangkan ekspansi ke pasar Jepang, mengingat banyak pelanggan di Jakarta yang berasal dari Jepang dan memiliki ketertarikan terhadap produk bag charm,” ucapnya kepada Investortrust beberapa waktu lalu.
Bisnis aksesoris ini dirintis karena hobi dan ketertarikan Mira untuk meminimalisir sampah industri. Kemudian dari kegemarannya mempelajari manik-manik Afrika, ia menemukan bahwa manik-manik yang digunakan di sana ternyata terbuat dari sampah kaca yang diimpor dari Jombang.
Sumber: Instagram/Semomondeezy
Mira pun berhasil mengubah limbah tersebut menjadi barang bernilai jual dan mampu bersaing dengan produk impor sejenis yang menguasai pasar Indonesia. Kini, selain memberdayakan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya, ia juga memiliki misi untuk memperkenalkan manik-manik Jombang lewat kreasi-kreasi uniknya.
Perempuan asal Tasikmalaya ini menuturkan, Semomondeezy merupakan aksesoris lokal yang didirikan pada Mei 2010 lalu. Semomondeezy diambil dari bahasa Sotho, salah satu etnis di benua Afrika Selatan yang memiliki arti perempuan cantik.
Produk Semomondeezy awalnya hanya dipasarkan kepada rekan-rekan Mira saja dengan sistem consignment atau jual beli bekas (secondhand). Namun seiring perkembangan teknologi informasi, ia berhasil menjual produknya ke luar negeri. Dari segi omzet, Mira bisa meraup hingga Rp 240 juta per tahun.
Baca Juga
Soal Investasi Pabrik AirTag Apple, Menperin: Itu Cuma Aksesoris, Bukan Komponen HKT
Lalita Ellis, pembeli Semomondeezy menilai bahwa produk aksesorisnya lucu. "Ternyata beneran lucu banget bag charm-nya. Yang nggak disangka ukurannya ternyata besar," ujarnya.
Masuk Ekosistem BRI
Langkah ekspornya, cerita Mira berawal pada tahun 2018 ketika ia memutuskan untuk masuk Rumah BUMN BRI. Alumnus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung jurusan Seni Rupa tersebut berharap memperoleh dukungan untuk mewujudkan impiannya.
Di Rumah BUMN BRI, ia tak hanya mendapatkan bantuan soal finansial tapi juga pendampingan, pelatihan, dan panduan dalam mengelola media sosial. Itu semua menjadi fondasi bagi pertumbuhan usahanya. “Saya tidak hanya belajar menjual produk, tetapi juga mengelola bisnis dengan baik,” ucapnya.
Mira merasakan bahwa sejak bergabung dengan ekosistem Rumah BUMN BRI, bisnisnya lebih sering mendapat exposure. Apalagi ditambah kelihaiannya dalam menciptakan aksesoris yang tidak hanya unik, tetapi juga ramah lingkungan.
Potensi Cerah
Foto: Investortrust/Dicki Antariksa
Produk industri kreatif khususnya fesyen dan aksesoris Indonesia yang kian kompetitif memiliki potensi pasar cerah dan menjadi unggulan untuk mendulang devisa.
Direktur Bisnis Kecil & Menengah BRI Amam Sukriyanto mengatakan, BRI terus berkomitmen mendampingi UMKM agar dapat berkembang hingga go global dan bersaing dengan produk lainnya dari berbagai negara.
“BRI akan terus mendukung UMKM Indonesia untuk memenuhi standar global. Harapannya, UMKM agar tetap fokus memikirkan brand dan bisnis mereka secara strategis, mengikuti perkembangan zaman yang sesuai dengan tren global sehingga UMKM terpacu untuk terhubung dengan seluruh dunia,” ucapnya.
Dengan jumlah mencapai lebih dari 99,6% dari total pelaku usaha di Indonesia, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Oleh karenanya, UMKM akan terus didorong untuk naik kelas hingga go global dengan program pemberdayaan yang berkelanjutan. Hal itu yang terus menjadi komitmen bank dengan kode emiten BBRI itu melalui berbagai macam program, salah satunya melalui Rumah BUMN.
Senior Executive Vice President (SEVP) Bisnis Ultra Mikro BRI M Candra Utama menambahkan, Rumah BUMN merupakan inisiatif dari Kementerian BUMN dan perusahaan BUMN untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan, khususnya UMKM yang di dalamnya menjadi pusat literasi serta inkubasi bisnis. Sejak pertama kali didirikan pada 2017, saat ini telah tersebar sebanyak 54 Rumah BUMN milik BRI di seluruh Indonesia.
Dari awal terbentuk, terjadi pertumbuhan signifikan jumlah UMKM yang mendaftar dari tahun ke tahun. Per Desember 2024, sebanyak lebih dari 433 ribu UMKM telah terdaftar.
“Kami punya 54 titik Rumah BUMN yang sudah memiliki lebih dari empat ratus ribu anggota. Program seperti ini kami akan perkuat di program yang menjangkau segmen mikro yang lebih bawah lagi atau yang disebut ultra mikro. Kami bekerja sama dengan PNM dan Pegadaian yang sudah menjadi bagian dari Holding Ultra Mikro. Kita akan permudah serta percepat UMKM mulai dari ultra mikro ke mikro hingga menjadi pelaku usaha yang difasilitasi pinjaman komersial,” ucap Candra.
Melalui Rumah BUMN, UMKM diberdayakan untuk melek teknologi melalui digitalisasi hingga mampu ekspor. Tercatat per akhir 2024, dari total UMKM yang terdaftar, sudah 87.409 UMKM go digital. 62.057 di antaranya go online, serta 872 UMKM di antaranya sudah go global.
Adapun sektor yang dibina oleh Rumah BUMN BRI adalah Industri Kreatif seperti fesyen, food and beverages, accessories & beauty, home décor & craft sebanyak 117.852 UMKM. Sisanya sebanyak 315.182 UMKM berasal dari sektor industri lainnya seperti jasa perdagangan, layanan, pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan masih banyak lagi.

