Hati-Hati, AI Tak Dapat Gantikan Peran Dokter
JAKARTA, investortrust.id –Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menawarkan tingkat akurasi yang tinggi dalam melakukan diagnosis. Meski demikian, penerapan AI harus hati-hati dan mengutamakan keselamatan pasien. AI juga tidak dapat menggantikan peran dan keahlian dokter.
“Meskipun teknologi AI mampu meningkatkan efisiensi diagnostik, penerapannya harus mengutamakan keselamatan pasien,” tegas Chief of Technology Transformation Office (TTO) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Setiaji pada publikasi laman resmi Kemenkes, Jumat (3/1/2025).
Menurut Setiaji, dokter tetap memosisikan diri sebagai penentu keputusan, terutama dalam mempertimbangan aspek kemanusiaan dan etika medis, serta memosisikan AI sebagai pemberi rekomendasi diagnosis.
Baca Juga
Berbicara di WEF Davos, Sekjen PBB Serukan Tindakan Nyata Hadapi Masalah Iklim dan Kecerdasan Buatan
“AI selayaknya dijadikan sebagai alat bantu yang mendukung dokter dalam membuat keputusan medis yang lebih cepat dan berdasarkan informasi yang ada. Integrasi AI ke dalam praktik klinis harus dilakukan dengan memprioritaskan etika dan keselamatan pasien," papar dia.
Setiaji menjelaskan, dalam praktik medis, integrasi AI juga harus memastikan penggunaan teknologi dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan tanpa mengabaikan pentingnya keahlian medis manusia.
Setiaji menegaskan, semua pihak terkait harus melakukan penilaian kritis dalam memahami dan mengimplementasikan hasil penelitian perihal keakuratan AI untuk praktik medis sehari-hari di Indonesia.
“Penting untuk mempertimbangkan metodologi penelitian yang dipakai oleh AI, termasuk jenis data yang diolah, program yang dijalankan, dan apakah sampel penelitian tersebut telah merepresentasikan populasi secara umum,” tandas dia.
Penelitian yang dilakukan di lingkungan terkontrol, menurut Setiaji, mungkin tidak dapat menggambarkan kompleksitas kasus yang dihadapi dalam praktik klinis, khususnya di Indonesia.
Selain itu, kata dia, interpretasi hasil penelitian AI harus memperhitungkan keragaman gejala yang ditunjukkan penyakit berbeda. AI mungkin tidak dapat menggantikan evaluasi medis individual yang komprehensif karena memerlukan interaksi langsung antara dokter dan pasien.
“Dokter memiliki kemampuan unik untuk menilai berbagai faktor yang mungkin memengaruhi kesehatan seseorang, seperti riwayat kesehatan, kondisi lingkungan, dan gaya hidup yang dijalani,” tutur dia.
Pengganti Peran Dokter
Setiaji mengungkapkan, pemanfaatan AI dalam menyajikan informasi kesehatan bagi masyarakat juga perlu dipahami secara bijak. Sebab, kecerdasan buatan seperti AI pada dasarnya bekerja dengan mengolah informasi yang telah diprogram dan mempelajari data yang tersedia dari berbagai sumber.
“Dengan demkikian, hal tersebut mungkin tidak selalu mencakup analisis spesifik terhadap kondisi medis setiap individu,” ujar dia.
Setiaji mengakui, teknologi AI seperti Chat GPT dapat memberikan panduan atau informasi awal terkait kesehatan. Namun, tetap saja, teknologi ini tidak dapat menggantikan peran dan keahlian dokter sebagai tenaga medis.
Baca Juga
“AI tidak dapat menggantikan peran dan keahlian dokter sebagai tenaga medis yang tidak hanya memeriksa gejala yang dialami individu sebagai pasien, tetapi juga mempertimbangkan berbagai faktor lain, misalnya riwayat kesehatan, alergi, gaya hidup, lingkungan, hingga hal-hal krusial lainnya," kata Setiaji.
Menurut dia, diagnosis dan pengobatan yang akurat terkadang membutuhkan pemeriksaan fisik, tes laboratorium, hingga prosedur diagnostik lanjutan yang hanya dapat dilakukan dokter atau tenaga kesehatan.
“Karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk hanya menggunakan AI sebagai sumber informasi awal saja dan melanjutkannya dengan konsultasi medis dari dokter atau tenaga kesehatan untuk memperoleh penilaian kesehatan yang lebih komprehensif, serta perawatan dan pengobatan yang sesuai,” papar dia.

