Devisa Indonesia Hilang Rp 170 Triliun Karena Warga Berobat ke Luar Negeri, Ini Respons Dirut BPJS Kesehatan
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengungkapkan, Indonesia kehilangan devisa sebesar US$ 11,5 miliar atau setara Rp 170 triliun (kurs Rp 14.835/USD) tiap tahun karena masyarakat lebih memilih berobat ke luar negeri (LN) dibanding di dalam negeri.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengklaim, spending kesehatan melalui kepesertaan BPJS berpotensi mencapai Rp 600 triliun per tahun bila para warga negara Indonesia (WNI) berhenti berobat di luar negeri.
“Spending kesehatan untuk seluruhnya (peserta BPJS) di Indonesia sekitar Rp 600 triliun setahun. Itu untuk di Pemda (bisa) membangun Puskesmas, beli alat terus obat,” ucap Ali di Kantor Investortrust, Jakarta, Senin (7/10/2024).
Baca Juga
BPJS Kesehatan Kucurkan Biaya Sebesar Rp 153 Triliun untuk Layanan Kesehatan
Namun demikian, ia tak menampik masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam infrastruktur ataupun manajemen sektor kesehatan di Indonesia.
Selain masalah kurangnya teknologi kesehatan, menurut Ali, dunia medis Indonesia masih perlu memperhatikan empat hal penting. Seperti komunikasi antara dokter dengan pasien, transparansi layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien, manajemen rumah sakit terhadap pasien peserta BPJS Kesehatan hingga ke kemasan atau packaging obat untuk pasien.
Baca Juga
BPJS Kesehatan Ungkap UHC RI Capai 98,67% Hingga September 2024
“Jadi, menurut saya masalahnya simple, bukan masalah substansial. Katakanlah bila ada otoritas (yang mengatur), kita bisa menyelesaikan hal-hal semacam ini,” imbuh dia.

