Waspada! Ternyata Ini Efek Samping Penggunaan Antibiotik Bagi Tubuh
MEDAN, investortrust.id - Praktisi medis dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP), dr. Rini Haryanti, MARS mengatakan bahwa penggunaan antibiotik secara terus menerus dapat berdampak buruk terhadap tubuh.
Menurut Rini, efek samping dari penggunaan antibiotik ini akan berdampak pada ginjal dan hati, sebagai organ yang mengeliminasi sisa-sisa residu dari obat.
"Jadi dampaknya itu banyak, efek sampingnya akan lebih banyak," ujar Rini dalam diskusi Investortrust Power Talk yang digelar secara hybrid, bertema “Menyiasati Overtreatment pada Layanan Kesehatan” yang digelar di Hotel Aryaduta, Medan, Sumatera Utara, Kamis (22/8/2024).
Baca Juga
Untuk diketahui, antibiotik adalah jenis obat yang efektif dalam mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan dapat digunakan sebagai pencegahan dalam situasi tertentu.
Lebih lanjut, Rini menyebut, jika sekiranya memang membutuhkan obat tersebut, maka pasien atau masyarakat perlu menimbang terlebih dahulu, mana lebih besar antara efek samping dan manfaatnya.Pasalnya setiap obat dipastikan memiliki efek samping.
"Tapi kalau memang dia membutuhkan obat tersebut, mau tidak mau efek sampingnya harus diterima,” ujarnya. Ia mencontohkan kasus batuk dan pilek pada anak kecil yang bisa terjadi hingga berkali-kali dalam setahun. Anak-anak kerap terpapar batuk dan pilek saat aktivitasnya sehari-hari seperti di sekolah dan di tempat mereka bermain.
“Jika tiap kali dia batuk pilek, dikasih antibiotik, efek sampingnya pasti akan lebih tinggi. Sementara pada periode tersebut sebenarnya antibiotik tidak dibutuhkan untuk proses penyembuhannya," ungkap Rini.
Baca Juga
Tekan Praktik Fraud, Komisi IX Minta Pemerintah Munculkan Efek Jera
Rini menjelaskan, efek samping dari penggunaan antibiotik ini tidak akan langsung terasa. Dampaknya bisa dirasakan ketika anak tersebut beranjak dewasa, salah satunya berupa gangguan pada ginjal.
Sementara mengacu pada panduan dari World Health Organization tentang pengobatan rasional, ada panduan klinis tentang batuk dan pilek yang sejatinya tidak membutuhkan antibiotik. “Untuk pemulihan batuk pilek berdasarkan panduan dari WHO, tidak perlu diberikan antiobiotik, akan sembuh dengan sendirinya, cukup diberikan cairan,” ujar Rini.
Ia pun mengimbau agar pasien lebih ‘aware’ jika menerima resep berupa antibiotik. Pasien harus berani bertanya diagnosis yang diidapnya serta alasan pemberian antibiotik. “Kalau dibilang penyakitnya disebabkan oleh virus, virus tidak membutuhkan antibiotik. Katakan bahwa Anda tidak mau antibiotik. Itu hak pasien," tegasnya.

