Tertinggi di Bali, BKKBN Dorong Percepatan Penurunan Stunting Kota Denpasar
JAKARTA, investortrust.id - Kota Denpasar menjadi wilayah dengan persentase prevalensi stunting tertinggi di Bali. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, persentase stunting Kota Denpasar sebesar 10,8%.
Walaupun demikian, berdasarkan data SKI 2023, Bali ternyata merupakan provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia, yakni 7,2%.
Menyikapi hal itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Denpasar mengadakan identifikasi keluarga berisiko stunting untuk percepatan penurunan stunting.
Baca Juga
Jawab Persoalan Transisi Bangsa, BKKBN Kembangkan Pelayanan di Pulau Terluar RI
Tim Pakar Audit Stunting, dr Gede Alit Wardana membeberkan penyebab stunting. Beberapa penyebab stunting tersebut, di antaranya karena anemia, terpapar rokok, kehamilan terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, jarak dekat, serta lainnya.
“Harapannya, program Presiden terpilih, Prabowo Subianto tentang makan siang gratis dapat menekan angka stunting,” ujarnya dalam keterangan pers, Rabu (21/8/2024).
Sementara itu, Perwakilan BKKBN Bali mengapresiasi upaya percepatan penurunan stunting yang dilakukan berbagai pihak di ibu kota Provinsi Bali.
Ketua Tim Kerja Advokasi, Komunikasi, Informasi, Edukasi, dan Kehumasan Perwakilan BKKBN Bali, Desak Nyoman Triarsini memaparkan, identifikasi ini sangat penting dilakukan sebagai satu mekanisme kerja dari tim percepatan penurunan stunting (TPPS).
"Identifikasi ini untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan keluarga tersebut berisiko stunting, dan setelah identifikasi ini akan dilanjutkan dengan audit kasus stunting. Hasilnya, akan dilakukan analisis apa yang harus diintervensi oleh dinas atau instansi terkait. Intervensi baik itu secara sensitif maupun spesifik,” terangnya.
Baca Juga
BKKBN Sebut Jumlah Keluarga Berisiko Stunting Turun Jadi 8,68 Juta
Ia menuturkan, penyebab senstitif terjadinya stunting dapat dikarenakan faktor lingkungan atau sanitasi, termasuk penyediaan konsumsi air bersih. Kemudian, lingkungan yang tidak bersih dan juga kepemilikan jamban sangat penting untuk menghindari terjadinya kesehatan yang buruk.
"Nah, kemudian secara spesifik ini apa yang harus diintervensi. Apakah dengan pemberian makanan bergizi dan protein, pemberian protein tinggi, seperti pemberian telur. Itu sebenarnya sangat simpel. Telor diolah dengan berbagai olahan, bisa dalam bentuk kue, nugget dan lainnya. Pemberian susu yang direkomendasi oleh pakar gizi juga sangat disarankan," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk, Penyuluhan dan Penggerakan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Denpasar, Putu Lely Rahayu memaparkan, indifikasi ini untuk mengidentifikasi risiko dan penyebab dengan menyasar kelompok sasaran berbasis surveilans rating.
“Sasaran dari calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita. Tujuannya untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang ditimbulkan pada kelompok sasaran, sehingga lebih awal mengintervensi agar tidak terjadi stunting,” tuturnya.
Di samping itu, mengenai SKI persentase tinggi, pihaknya berharap tahun 2024 ini turun dalam Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM). “Pemerintah Kota Denpasar sudah melakukan berbagai program untuk mempercepat penurunan stunting ini,” paparnya.
Ia mengungkapkan, penyebab stunting di Kota Denpasar karena asupan gizi, pola asuh, serta lainnya. “Tentunya kami tidak bisa bekerja sendiri. Dari keluarga dan yang terkait lainnya harus berintegrasi dan konvergensi untuk percepatan penurunan stunting. Yang mendominasi penyebab stunting itu asupan gizi,” pungkasnya. (CR-4)

