Kepala BKKBN Ungkap Pengaruh Stunting Terhadap Kualitas SDM
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo memaparkan, stunting sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM. Sehingga, BKKBN masih bekerja keras untuk menurunkan angka stunting.
“Dan satu hal yang tidak perlu dan jangan dilupakan bahwa faktor kesehatan sangat penting," terang dokter Hasto dalam keterangan resmi yang diterima Jumat (2/8/2024).
Dokter Hasto kembali mengingatkan bahwa stunting bisa membuat pertumbuhan anak terganggu. “Anak stunting pasti pendek, namun pendek belum tentu stunting. Yang pasti, stunting mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Terganggu kemampuan komunikasinya, terganggu motorik halusnya, tingkah laku sosial mengalami keterlambatan, dan banyak mengalami gangguan kesehatan,” kata Hasto.
Tak lupa, ia juga kembali mengingatkan pentingnya 4Terlalu. Bila 4T ini tak diindahkan, berpotensi memunculkan stunting-stunting baru.
Baca Juga
Kepala BKKBN Ingatkan Pentingnya Asuh, Asih dan Asah di 1.000 Hari Pertama Kehidupan Bayi
"Kalau kita nikah jangan terlalu muda, jangan terlalu tua, jangan terlalu dekat jarak kelahiran, dan jangan terlalu banyak (anak)," tegasnya.
Hal yang juga harus diperhatikan adalah asupan ASI bagi bayi. ASI perlu terus dipromosikan sebab hal ini penting untuk membentuk kualitas SDM di 100 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Begitu 1.000 HPK, ubun-ubun bayi akan menutup. Otak tidak bertambah banyak (berkembang) lagi," urai dokter Hasto.
Ia menuturkan, apabila masyarakat ingin memiliki anak yang memiliki kemampuan luar biasa, maka pengertian stunting di 1.000 HPK bagi keluarga sangat penting. "Terbebas dari stunting bisa menaikkan kesehatan dan ekonomi. Stunting memang menghantui kehidupan kita. Cegah stunting itu sangat penting, dan perlu diperhatikan," tuturnya.
Baca Juga
Kepala BKKBN Ingatkan Pentingnya Kesiapan Ekonomi dan Mental Sebelum Menikah
Di samping itu, dokter Hasto juga menyinggung momentum yang bisa memberikan kontribusi positif bagi anak bangsa, yaitu bonus demografi, di tengah angka kelahiran yang turun terus. Kini Total Fertility Rate (TFR) sudah bertengger di angka 2,1.
"Puncak bonus demografi di tahun 2022 dan window opportunity, menikmati bonus tidak lama hingga tahun 2035. Maka, kita harus keluar dari middle income trap dan harus loncat ketika dikaitkan dengan ekonomi," terangnya.
Merujuk pada data World Bank, puncak bonus demografi di Indonesia terjadi di 2022. Hal ini dibuktikan angka (generasi) muda yang kerja menurun, angka (generasi) tua naik dan angka kelahirannya bagus. Sementara angka kematian turun yang menandakan bahwa transisi demografi Indonesia alami
Lebih jauh, dokter Hasto mengatakan sesaat lagi Indonesia akan segera menghadapi populasi tua (ageing population) yang akan menjadi beban negara. Hal ini ditandai dengan kepadatan penduduk yang meningkat. Maka, isu-isu strategis, seperti isu kesehatan sangat penting.
Menurut dokter Hasto, kesehatan itu sangat penting sebab bonus demografi penduduk harus didorong oleh bekerja dan menabung. Sehingga, penduduk yang bekerja harus sehat.
Saat ini, Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan dependency ratio di angka 44. Menurutnya, saat ini kunci dari SDM yang baik adalah kesehatan. Dan faktor yang diperhatikan adalah stunting, melalui intervensi pranikah, keluarga, air bersih, lingkungan.
"Ini adalah momentum dan penting sekali disikapi. Setelah pandemi, kita harus menikmati bonus ini. Jangan sampai kita tidak memanfaatkan. Jangan sampai pula kitamenua tapi belum kaya," ujar dokter Hasto.

