BKKBN: Pencegahan Stunting Harus Dilakukan dengan Pendekatan 'Extraordinary'
JAKARTA, investortrust.id - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menegaskan bahwa langkah-langkah pencegahan stunting harus dilakukan dengan pendekatan 'extraordinary' melalui sinergitas, integrasi dan akselerasi serta komitmen para pemangku kebijakan dan mitra kerja.
Plt Kepala Perwakilan BKKBN Bali, Ni Luh Gede Sukardiasih, mengingatkan dalam agenda Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Tim Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Provinsi Bali kepada 400 peserta dari Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) seluruh kabupaten/kota di Bali untuk tidak lengah karena Bali telah menyandang predikat angka stunting terendah tingkat nasional 7,2%.
"Kita tidak bisa lalai karena sudah menempati posisi paling rendah! Tetap harus kerjasama, koordinasi kolaborasi untuk bersama-sama turun ke lapangan untuk mengentaskan stunting tidak boleh jalan sendiri-sendiri," ujar dokter Sukardiasih pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Tim Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Provinsi Bali di ruang Wicaksana Perwakilan BKKBN Bali, Denpasar, Selasa (17/9/2024).
Baca Juga
KLHK: Perlu Perubahan Paradigma dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
Di samping itu, Sukardiasih mengapresiasi kinerja Tim Percepatan Penurunan Stunting sehingga Bali menempati posisi terendah stunting tingkat nasional. Menurutnya, mempertahankan angka terendah ini membutuhkan energi semua pihak. Butuh kerja keras dan tuntas untuk mengawal penurunan stunting.
Asal tahu, BKKBN sendiri memiliki dua misi utama yaitu mempertahankan pertumbuhan penduduk seimbang dan mewujudkan keluarga berkualitas.
"Tidak lagi dua anak cukup, tapi untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Salah satu caranya dengan menurunkan stunting. Stunting harus kita berantas," terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Satgas Stunting Provinsi Bali, Made Ayu Witriasih, mengatakan, rakornis ini menjadi rakornis kedua yang diadakan dengan tujuan mempersiapkan survei status gizi yang akan diadakan pada September ini.
Baca Juga
Edukasi Pegawainya, BKKBN Komitmen Bantu Perangi Judi Online
"Jadi, kita berkumpul disini dengan TPPS provinsi, kabupaten dan lintas sektor yang lain untuk konvergensi, agar mereka lebih aware, lebih peduli untuk menanggulangi stunting," terangnya.
Lebih lanjut, ia juga memaparkan bahwa target angka stunting Bali pada tahun 2024 adalah 6,15%. Untuk mencapai target itu membutuhkan sinergi semua pihak.
Ia mengingatkan kepada tim terbawah di tingkat posyandu untuk terus memperhatikan kunjungan balita ke posyandu dan untuk tidak mengabaikan penduduk pendatang.
"Selama ini posyandu hanya melibatkan masyarakat permanen, tapi penduduk pendatang akan menjadi sasaran survei. Jadi, pihaknya menghimbau agar penduduk pendatang juga dilibatkan dalam kegiatan posyandu," himbaunya.
Di samping itu, rakornis juga bertujuan untuk meningkatkan dan menyelaraskan kualitas pelaksanaan program percepatan penurunan stunting tingkat provinsi dan kabupaten/kota se- Bali dengan pengeluaran output dan manfaat yang jelas dan terukur secara khusus.
Rakornis diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang program dan kegiatan penurunan stunting tingkat provinsi, menyelaraskan program percepatan penurunan stunting di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se- Bali. (CR-4)

