Mengapa Cedera Hamstring Sering Terjadi pada Pemain Bola? Ini Kata Dokter
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah euforia Piala Dunia yang baru saja berlangsung, cedera pemain menjadi salah satu perhatian karena dapat memengaruhi performa tim. Salah satu cedera yang sering dialami atlet adalah cedera hamstring, yaitu cedera pada otot bagian belakang paha yang berperan dalam gerakan eksplosif seperti berlari cepat, melompat, berubah arah, hingga menendang. Meski identik dengan pemain sepak bola, cedera ini juga dapat dialami oleh siapa saja yang aktif berolahraga.
Tingginya intensitas aktivitas olahraga membuat hamstring menjadi salah satu area tubuh yang berisiko mengalami cedera. Menurut dr. Reyner Valiant Tumbelaka, M.Ked.Klin., Sp.OT, dari Mayapada Hospital Surabaya, "Cedera hamstring umumnya terjadi ketika otot menerima beban yang melebihi kapasitasnya, terutama saat seseorang melakukan sprint, perubahan arah secara cepat, atau gerakan dengan tenaga besar dalam waktu singkat. Risiko cedera dapat meningkat apabila kondisi otot tidak optimal, mengalami kelelahan, atau terdapat ketidakseimbangan kekuatan dan fleksibilitas otot."
Keluhan yang paling sering muncul adalah nyeri mendadak di bagian belakang paha saat berlari, menendang, atau melakukan perubahan arah secara tiba-tiba yang dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan mengganggu performa di lapangan. Pada cedera hamstring ringan, pertolongan awal dapat dilakukan dengan metode PRICE, yaitu melindungi area yang cedera (Protect), mengistirahatkannya (Rest), memberikan kompres dingin (Ice), menggunakan perban elastis untuk membantu mengontrol pembengkakan (Compression), serta memposisikan area tersebut lebih tinggi saat beristirahat (Elevation).
Baca Juga
Apa Itu Code Blue? Mengenal Tim Medis yang Siap Bergerak Cepat Saat Kondisi Kritis
Menurut dr. Alvin Wiharja, Sp.KO, M.M.R.S dari Mayapada Hospital Bandung, “Dalam proses pemulihan, manajemen nyeri yang tepat dan latihan kekuatan otot berperan penting untuk membantu mengurangi risiko cedera berulang (overuse injury) serta mendukung seseorang kembali beraktivitas secara optimal. Meski keluhan awal dapat mereda dengan penanganan nyeri, penguatan otot hamstring tetap perlu dilakukan secara baik, benar, teratur, dan terukur untuk membantu mengembalikan fungsi otot serta performa otot hamstring itu sendiri pasca-cedera,” jelas dr. Alvin.
Selain penanganan yang tepat, upaya pencegahan juga berperan penting untuk mengurangi risiko cedera hamstring. Menurut dr. Taufan Favian Reyhan, Sp.KO dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, "Pencegahan cedera hamstring tidak hanya bergantung pada pemanasan sebelum berolahraga. Kondisi kebugaran, keseimbangan kekuatan otot, pola latihan, hingga kualitas pemulihan juga perlu diperhatikan. Melalui evaluasi yang tepat, faktor risiko cedera dapat diidentifikasi lebih dini sehingga program latihan dan pencegahan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu."
Pentingnya pendekatan preventif tersebut juga menjadi dasar dalam pengelolaan kesehatan olahraga modern, yang tidak hanya berfokus pada penanganan cedera, tetapi juga identifikasi risiko dan optimalisasi performa sejak dini. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Mayapada Hospital memiliki Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC), layanan yang terintegrasi dengan Orthopedic Center. Layanan ini mencakup medical check-up olahraga (sports medical check-up), skrining kesehatan dan kebugaran, pencegahan cedera, rehabilitasi, hingga program peningkatan performa olahraga yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Dengan dukungan tim dokter multidisiplin berpengalaman serta fasilitas penunjang seperti gym, Body Composition Analysis, dan pemeriksaan VO₂ Max, SITPEC membantu masyarakat maupun atlet berolahraga secara lebih aman, optimal, dan terukur.
Informasi lebih lanjut mengenai layanan Mayapada Hospital dapat diperoleh melalui Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, Emergency Call 150990, atau fitur emergency call di aplikasi MyCare. Selain itu, Anda juga dapat memantau kebugaran tubuh melalui fitur Personal Health untuk menghitung detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).
Baca Juga
Bisakah Si Kecil Lahir Prematur Tetap Tumbuh Sehat? Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua
