Kenapa Berita Tambang Sering Bikin 'Netizen' Salah Paham? Ini Kata Dosen Unhas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Direktur Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin (Unhas) Suhasman menilai informasi mengenai industri pertambangan perlu disampaikan secara berimbang agar masyarakat memahami konteks di balik isu yang berkembang. Ia menyoroti respons publik terhadap pemberitaan tambang yang kerap terbentuk dari informasi yang diterima secara parsial.
"Saya kadang-kadang kalau ada informasi yang kebetulan saya tahu, lalu melihat bagaimana respons netizen terhadap berita itu, ternyata lebih dari 50% sepertinya kadang-kadang dipersepsikan tidak sesuai dengan yang dimaksudkan," kata Suhasman dalam sosialisasi pertama MediaMIND 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (31/8/2026).
Baca Juga
MIND ID Distribusikan Nilai Ekonomi Rp 180,3 Triliun, Pemasok Lokal Jadi Penopang
Menurut Suhasman, isu pertambangan sering mendapat perhatian publik karena berada di antara kepentingan ekonomi dan lingkungan. Kondisi tersebut membuat informasi mengenai aktivitas tambang mudah dipahami dari satu sudut pandang saja.
Ia mengatakan perhatian masyarakat juga cenderung lebih besar terhadap informasi yang memuat sisi negatif industri pertambangan dibandingkan pemberitaan mengenai manfaat yang dihasilkan.
“Jarang kita tertarik membaca seberapa banyak sudah kebermanfaatan yang didapatkan dari aktivitas menambang misalnya dan berapa banyak luas yang ditambang dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari tambang,” ujarnya.
Tantangan Membangun Pemahaman Publik
Menurut Suhasman, pemahaman terhadap industri pertambangan membutuhkan informasi yang tidak hanya menyoroti aktivitas ekstraksi mineral, tetapi melihat manfaat ekonomi dan sosial yang dihasilkan.
Sektor pertambangan sendiri telah memasuki babak baru dalam peta jalan industrinya. Indonesia memiliki sejumlah mineral strategis, seperti nikel, tembaga, bauksit, emas, dan timah yang menjadi bagian penting dalam pengembangan industri nasional. Pengelolaan sumber daya mineral juga semakin diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Pemerintah dan pelaku industri mendorong pengolahan mineral agar sumber daya tidak berhenti pada tahap ekstraksi dan dapat terhubung dengan sektor manufaktur.
Pendekatan hilirisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri nasional. Pengolahan di dalam negeri juga membuka ruang bagi peningkatan nilai ekonomi dari sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia.
Informasi kepada publik dinilai perlu menggambarkan berbagai aspek yang menyertai kegiatan pertambangan, mulai dari kontribusi ekonomi, pengelolaan lingkungan, pengembangan masyarakat, hingga proses pengolahan mineral.
Baca Juga
MIND ID Dorong Hilirisasi Tambang untuk Perkuat Ekonomi Indonesia
Pembahasan mengenai informasi pertambangan tersebut menjadi bagian dari sosialisasi MediaMIND 2026 yang digelar Vale Indonesia. Program tersebut menghadirkan enam subtema yang mencakup Ekonomi dan Investasi, ESG dan Green Mining, Hilirisasi dan Industrialisasi, Ketahanan Mineral Indonesia, Kontribusi Sosial Masyarakat, serta Transformasi dan Inovasi.
MediaMIND 2026 merupakan kompetisi karya jurnalistik yang mulai berlangsung pada 1 Agustus 2026. Kompetisi tersebut memberikan ruang bagi jurnalis, akademisi, pengamat, dan masyarakat umum untuk mengangkat berbagai perkembangan industri pertambangan dari perspektif yang beragam. Karya yang dilombakan merupakan publikasi yang terbit pada periode 15 September 2025 hingga 17 September 2026. Batas pengumpulan karya bagi kategori jurnalis ditetapkan pada 17 September 2026.
Sementara itu, kategori umum, akademisi, dan pengamat memiliki batas pengumpulan karya hingga 25 Oktober 2026.
