Siloam Hospital Catat 543 Transplantasi Ginjal, Kini Kembangkan Teknologi Robotik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Siloam Hospital Asri telah menjalankan 543 prosedur transplantasi ginjal sejak Juli 2017 hingga Juli 2026. Setelah mencatat peningkatan jumlah transplantasi, rumah sakit tersebut kini mulai mengembangkan penggunaan teknologi robotik untuk pasien tertentu.
Dokter urologi Siloam Hospital Asri Nur Rasyid mengatakan, hingga Juli 2026, jumlah transplantasi ginjal yang dilakukan mencapai 45 prosedur. Dengan peningkatan jumlah transplantasi ginjal di atas 50 prosedur setiap tahun, Siloam Hospital Asri diperkenankan memulai proses robotik. Namun, prosedur tersebut tidak akan digunakan untuk seluruh pasien transplantasi.
Teknologi robotik khususnya digunakan untuk pasien dengan berat badan berlebih atau kegemukan serta pasien dengan risiko infeksi. “Semua pasien transplantasi mempunyai risiko infeksi yang lebih tinggi karena mereka diberikan imunosupresan,” ujar Rasyid dalam perhelatan The 6th Siloam Urology-Nephrology Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Baca Juga
Deteksi Dini Gangguan Kaki Masih Rendah, Siloam Ajak Masyarakat Tak Abaikan Keluhan
Selain dukungan teknologi, Rasyid mengatakan keberhasilan transplantasi ginjal di Siloam Hospital Asri juga ditopang ketersediaan donor hidup. Dengan adanya donor hidup, proses transplantasi ginjal di Siloam Hospital Asri memiliki keberhasilan klinis mencapai 98%.
Meski mencatat hasil tersebut, Rasyid berharap Siloam Hospital Asri juga dapat mendorong ketersediaan cadaver donor atau donor jenazah. Dorongan tersebut muncul karena Siloam Hospitals Group memiliki jaringan dan data pasien yang baik.
“Siloam Group memiliki jaringan untuk bisa menyediakan cadaver donor. Misalnya, pasien yang sudah di ICU mengalami mati batang otak. Ketika keluarga setuju, maka sistem yang ada di Siloam Asri akan memudahkan untuk memulai [transplantasi],” ujar Rasyid.
Ketika donor jenazah diperoleh, Siloam Hospitals Group akan menggunakan satu ginjal untuk transplantasi di Siloam Hospital Asri. Sementara satu ginjal lainnya akan ditransplantasikan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
640.000 Ginjal Kronis
Ketua Komite Transplantasi Nasional Budi Sampurna mengatakan, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), sebanyak 0,22% populasi masyarakat atau sekitar 640.000 orang menderita penyakit ginjal kronis. “Dan ini bertambah setidaknya setahun sekitar 6.000, menurut BPJS Kesehatan,” kata Budi.
Dari total pasien ginjal kronis tersebut, sekitar 120.000-200.000 pasien harus menjalani hemodialisis atau cuci darah. “Ini semua merupakan cost yang harus kita tagihkan selama ini. Yang besarnya kalau BPJS saja sudah Rp13 triliun,” ujar Budi.
Menurut Budi, transplantasi ginjal menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi penyakit ginjal kronis. Kementerian Kesehatan mencatat, sejak 1977 sejumlah rumah sakit di Indonesia telah melayani transplantasi ginjal. Selama 39 tahun terakhir, total telah dilakukan 2.246 transplantasi ginjal.
Baca Juga
Malindo (MAIN) Diprediksi Mulai Pulih di Semester II-2026, Intip Target Harga Sahamnya
Jumlah transplantasi ginjal meningkat pada 2024 dan 2025. Pada 2024, transplantasi ginjal di Indonesia mencapai 256 tindakan, kemudian menjadi 235 tindakan pada 2025. “Dan angka ini jauh dari yang diperlukan. Karena angka normalnya adalah ribuan,” ujar Budi.
Sementara itu, CEO Siloam Hospitals Group Caroline Riady mengatakan perkembangan teknologi yang semakin maju perlu disandingkan dengan kemampuan sumber daya manusia untuk mengintegrasikannya. Menurutnya, hal tersebut relevan diterapkan di bidang urologi dan nefrologi di Indonesia. “Hal inilah yang menurut saya sangat relevan di bidang urologi dan nefrologi di Indonesia,” kata Caroline.
Caroline mengatakan Siloam Hospital Asri ingin menjadi pelopor dalam menghadirkan teknologi robotik untuk penanganan penyakit ginjal. Dia berharap pengembangan teknologi tersebut dapat melangkah ke arah transplantasi.
Menurut dia, perjalanan pasien dengan penyakit ginjal kronis sangat sulit. Karena itu, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan diskusi ilmiah diharapkan dapat memberikan jawaban bagi pasien. “Ketika kita memulihkan kesempatan mereka, kita membalikkan kemampuannya untuk berkarya, menghidupi keluarganya, membesarkan anak-anaknya, dan berkontribusi kepada masyarakat,” kata Caroline.

