Jersey Piala Dunia 2026 Tak Lagi Seragam, Kini Jadi Simbol Budaya dan Identitas
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi panggung pertarungan para pemain terbaik dunia, melainkan juga arena unjuk kreativitas perlengkapan olahraga.
Di balik desain jersey yang dikenakan para bintang sepak bola, tersimpan proses panjang yang melibatkan riset tren global, teknologi mutakhir, hingga cerita budaya yang ingin disampaikan kepada jutaan penggemar.
Direktur Federasi Adidas Football, Mateo Kossmann, mengungkapkan bahwa proses pembuatan jersey tim nasional untuk Piala Dunia dimulai jauh sebelum turnamen berlangsung. Bahkan, ketika jersey Piala Dunia 2026 baru diluncurkan, tim desain Adidas sudah mulai mengembangkan konsep seragam untuk 2028.
Baca Juga
Kisah Joshua Brenet Dibuang Julian Nagelsmann, Kini Lawan Jerman di Piala Dunia 2026
Menurut Kossmann, markas besar Adidas di Herzogenaurach, Jerman, selalu dipenuhi proyek dari berbagai era sekaligus. Dalam satu ruangan, desainer membahas jersey Arsenal untuk beberapa tahun mendatang, sementara di ruangan lain mereka mengembangkan teknologi pakaian untuk Piala Dunia berikutnya. Tidak jauh dari sana, tim lain justru sedang mempelajari kembali jersey klasik Jerman yang digunakan pada Piala Dunia 1994.
Baginya, momen paling berkesan dalam proses tersebut adalah ketika sampel pertama jersey tiba di kantor. Saat itulah seluruh tim dapat melihat hasil akhir yang selama bertahun-tahun hanya ada dalam bentuk konsep dan rancangan.
"Semua orang membuka kotak dan melihat jersey untuk pertama kalinya. Kami menyebutnya seperti Hari Natal karena akhirnya bisa melihat ide yang selama ini kami kerjakan menjadi nyata," ujar Kossmann, dilansir ESPN.
Peran jersey kini telah berubah jauh melampaui fungsi sebagai pakaian pertandingan. Seragam tim nasional menjadi simbol identitas, kebanggaan, bahkan bagian dari budaya populer. Fenomena tersebut semakin terlihat menjelang Piala Dunia 2026.
Laporan platform fesyen Depop menunjukkan pencarian jersey Piala Dunia melonjak hingga 652 persen dalam lima pekan terakhir. Penjualan pun terus meningkat dari pekan ke pekan. Bagi banyak orang, mengenakan jersey bukan sekadar mendukung tim favorit, melainkan menunjukkan keterikatan budaya dan kenangan terhadap momen-momen tertentu dalam hidup mereka.
Penulis dan jurnalis olahraga Joey D'Urso menilai kekuatan utama sebuah jersey Piala Dunia terletak pada kemampuannya membangkitkan nostalgia. "Piala Dunia selalu menghadirkan kenangan yang sangat kuat. Saya masih ingat jelas jersey Inggris 1998, karena itu adalah Piala Dunia pertama yang saya saksikan. Gol Michael Owen ke gawang Argentina masih melekat di kepala saya sampai sekarang," katanya.
Menurut D'Urso, kesuksesan sebuah tim juga ikut menentukan status ikonik sebuah jersey. Hal itu terlihat dari popularitas seragam Argentina setelah menjadi juara dunia pada 2022. Jersey yang digunakan saat meraih gelar sering kali bertahan dalam ingatan publik selama puluhan tahun.
Meski tren desain terus berubah, D'Urso percaya kesederhanaan tetap menjadi kunci. Dia menilai jersey terbaik adalah yang tetap mempertahankan identitas tradisional tanpa kehilangan sentuhan modern.
"Jangan terlalu berusaha menjadi berbeda. Ketika melihat jersey Brasil, orang tetap ingin melihat warna kuning khas mereka. Desain boleh berkembang, tetapi identitas harus tetap terasa," ujar D’Urso.
Cerita di balik jersey Brasil menjadi salah satu yang paling menarik dalam sejarah sepak bola dunia. Seragam kuning ikonik yang kini dikenal luas ternyata lahir dari kekecewaan nasional setelah Brasil kalah dari Uruguay pada final Piala Dunia 1950. Sebelumnya, Brasil menggunakan jersey putih sebelum akhirnya menggelar sayembara nasional untuk mencari desain baru yang kemudian melahirkan warna kuning legendaris tersebut.
Bagi Kossmann, keberhasilan sebuah jersey modern tidak hanya bergantung pada tampilannya. Dari sisi pemain, jersey harus mampu mendukung performa maksimal di lapangan. Karena itu, Adidas menyematkan teknologi pendingin khusus pada seragam Piala Dunia 2026 guna membantu pemain menghadapi suhu panas di Amerika Utara.
Namun, untuk suporter, makna jersey jauh lebih dalam. Seragam dianggap sebagai simbol yang menyatukan berbagai generasi dan latar belakang.
"Tidak peduli apakah itu seorang nenek atau anak berusia lima tahun, semua orang menonton Piala Dunia. Ini adalah perayaan budaya yang menyatukan semua orang. Karena itu cerita yang disampaikan melalui desain jersey harus mudah dipahami dan dekat dengan masyarakat," jelas Kossmann.
Pendekatan tersebut terlihat jelas pada jersey peserta Piala Dunia 2026. Jersey kandang umumnya tetap mempertahankan warna bendera negara masing-masing, sedangkan jersey tandang menjadi ruang eksplorasi budaya yang lebih luas.
Salah satu contoh menarik datang dari Curacao. Negara Karibia yang menjadi debutan terkecil dalam sejarah Piala Dunia itu tampil dengan jersey tandang berwarna kuning muda yang terinspirasi dari arsitektur khas ibu kota Willemstad. Desain tersebut langsung mendapat pujian luas dan masuk dalam daftar jersey terbaik menjelang turnamen.
Fenomena kebangkitan jersey retro juga menjadi bagian penting dalam tren saat ini. Adidas kembali merilis sejumlah desain klasik dari era 1990-an milik Spanyol, Jerman, Swedia, hingga Jepang. Tren tersebut menunjukkan bahwa nostalgia masih memiliki daya tarik besar bagi penggemar sepak bola.
Desainer legendaris Drake Ramberg, yang berada di balik sejumlah jersey ikonik Nike pada dekade 1990-an, menilai era tersebut begitu dikenang karena keberanian dalam penggunaan warna dan grafis.
"Pada 1990-an menjadi periode yang sangat khas karena penggunaan warna-warna berani dan desain yang mencolok. Pada saat yang sama, teknologi bahan pakaian juga berkembang pesat sehingga kualitas jersey meningkat drastis," kata Ramberg.
Ramberg menyebut jersey Nigeria pada Piala Dunia 2018 sebagai titik balik kembalinya konsep storytelling dalam desain seragam sepak bola. Perkembangan teknologi memungkinkan produsen menggabungkan material berperforma tinggi dengan elemen visual yang kaya makna budaya.
Kini, masukan suporter juga semakin memengaruhi proses desain. Media sosial membuat produsen dapat mengetahui secara langsung respons penggemar terhadap setiap konsep yang dirilis.
Hal itu terlihat pada jersey Argentina dan Spanyol untuk Piala Dunia 2026. Seragam Argentina menggabungkan tiga nuansa biru yang terinspirasi dari tiga gelar juara dunia mereka. Sedangkan Spanyol menonjolkan warna biru tua sebagai penghormatan terhadap kemenangan bersejarah di Piala Dunia 2010.
Bagi Kossmann, tujuan akhirnya sederhana: menciptakan jersey yang tidak hanya dikenang pada hari ini, tetapi juga puluhan tahun ke depan.
"Kami ingin orang-orang melihat kembali jersey Piala Dunia 2026 dalam 20 atau 30 tahun mendatang dan berkata bahwa Adidas benar-benar menciptakan sesuatu yang istimewa pada era itu," tutup Kossmann.
Baca Juga
Sehari Gabung Tottenham Hotspur, Marcos Senesi Langsung Terbang ke Piala Dunia 2026

