Paus Leo XIV Serukan Perdamaian Global: "Jangan Gunakan Tuhan untuk Benarkan Perang”
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Dalam suasana hening dan reflektif perayaan Jumat Agung, 3 April 2026, Paus Pope Leo XIV menyampaikan seruan kuat kepada dunia untuk menghentikan perang dan mengembalikan kemanusiaan sebagai pusat peradaban. Dalam khotbah dan permenungan Jalan Salib di Koloseum Roma, Paus mengecam penggunaan agama sebagai pembenaran kekerasan serta mengajak dunia memasuki “rasa malu yang kudus” atas penderitaan umat manusia akibat konflik.
Dalam laporan Vatican News yang dipublikasikan pada 3 April 2026, Paus menegaskan bahwa penderitaan Kristus tidak berhenti di masa lalu, tetapi terus hadir dalam korban-korban konflik modern. Ia secara khusus menyoroti situasi di Israel, Palestina, dan Ukraina sebagai gambaran nyata dunia yang masih terpecah dan dilukai oleh perang.
“Kristus masih disalibkan dalam diri orang-orang tak berdosa,” demikian pesan utama yang disampaikan Paus, seraya mengecam keras pihak-pihak yang “menyebut nama Tuhan untuk membenarkan perang”. Pernyataan ini menjadi kritik langsung terhadap retorika religius yang digunakan dalam konflik global, termasuk di Timur Tengah dan Eropa Timur.
Baca Juga
Dalam permenungan Jalan Salib, Paus memperkenalkan konsep “holy shame” atau “rasa malu yang kudus”, yakni kesadaran moral kolektif bahwa dunia telah gagal melindungi yang lemah. Ia menggambarkan bagaimana kaum muda, orang sakit, lansia, dan kelompok rentan lainnya menjadi korban paling besar dari peperangan dan ketidakadilan global.
Tak hanya dalam kata-kata, Paus juga menunjukkan solidaritas secara simbolis dengan memikul salib secara langsung dalam prosesi Jalan Salib di Koloseum—sebuah tindakan yang jarang dilakukan dan sarat makna di tengah situasi dunia yang dilanda konflik.
Selain itu, Paus Leo XIV juga mengambil langkah konkret melalui jalur diplomasi. Ia dilaporkan melakukan komunikasi langsung dengan para pemimpin di Israel dan Ukraina, menyerukan penghentian segera permusuhan serta mendorong tercapainya “perdamaian yang adil dan berkelanjutan”.
Seruan tersebut juga mencakup ajakan untuk gencatan senjata selama masa Paskah, sebagai momentum refleksi bagi seluruh umat manusia untuk menghentikan kekerasan dan membuka ruang dialog.
Baca Juga
Paus Leo XIV: Hentikan Perang, Jadikan Diplomasi sebagai Pembungkam Senjata
Dalam pesannya, Paus mengajak semua orang—tidak hanya umat Katolik—untuk menjadi “pembawa damai” di tengah dunia yang terpolarisasi. Ia menekankan bahwa mengikuti Kristus berarti berjalan di jalan belas kasih, bukan kekerasan; membangun persatuan, bukan perpecahan.
Pesan Jumat Agung tahun ini muncul di tengah meningkatnya konflik global, termasuk perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang turut memicu ketegangan geopolitik serta krisis kemanusiaan di berbagai wilayah. Dalam konteks tersebut, seruan Paus menjadi pengingat moral bahwa di balik strategi militer dan kepentingan geopolitik, terdapat manusia nyata yang menderita.
Dengan demikian, Jumat Agung 2026 tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga menjadi panggilan global untuk kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah dunia yang dipenuhi kekerasan, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa salib Kristus bukan simbol kekalahan, melainkan jalan menuju perdamaian—yang hanya dapat terwujud jika manusia memilih kasih daripada kekuasaan.

