Trump Tekan Sekutu Barat: Pergi ke Hormuz, Ambil Sendiri Minyak, AS Tak Akan Membantu
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap sekutu-sekutu Barat di tengah eskalasi perang Iran, dengan secara terbuka meminta mereka mengamankan sendiri pasokan energi dari kawasan Teluk, khususnya Selat Hormuz, sekaligus memperingatkan bahwa Washington tidak akan lagi selalu hadir membantu.
Dalam pernyataannya yang dikutip CNN pada 31 Maret 2026 (12:14 EDT), Trump mendesak negara-negara Eropa seperti Inggris untuk tidak bergantung pada Amerika Serikat dalam menjamin pasokan energi.
“Pergilah ke Hormuz dan ambil saja (minyaknya),” ujar Trump.
Nada keras itu diperkuat dalam pernyataan terpisah yang dilaporkan CNBC pada 31 Maret 2026, di mana Trump secara khusus menyasar Inggris dan Prancis. Ia menegaskan bahwa AS tidak akan lagi memberikan dukungan otomatis kepada sekutunya. “AS tidak akan lagi ada untuk membantu Anda… Anda harus mulai belajar berperang sendiri,” tulis Trump di Truth Social.
Trump menuding Prancis tidak kooperatif karena menolak memberikan izin bagi pesawat militer menuju Israel melintasi wilayah udaranya. “Prancis sangat tidak membantu… Amerika Serikat akan mengingat ini,” ujarnya.
Inggris juga dikritik karena menolak terlibat dalam operasi militer terhadap Iran, termasuk dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan ini menandai ketegangan serius dalam hubungan transatlantik, terutama di tengah konflik besar yang melibatkan kepentingan energi global.
Baca Juga
Trump Klaim Ada Kemajuan Diplomasi, Namun Ancam Hancurkan Energi Iran
Harga Minyak US$ 168
Pernyataan Trump muncul di tengah lonjakan harga energi global. Rata-rata harga bensin di Amerika Serikat dilaporkan mencapai sekitar US$4 per galon, atau secara matematis setara sekitar US$168 per barel (42 galon)—meski angka ini merupakan harga BBM eceran, bukan minyak mentah.
Menurut laporan CNN, lonjakan ini dipicu oleh terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz akibat konflik Iran. Jalur ini merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi global yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Laporan Reuters (31/3/2026) menegaskan bahwa ketegangan di Selat Hormuz telah meningkatkan premi risiko pengiriman minyak dan mempersempit pasokan global. Sementara itu, Bloomberg menyebut pasar energi kini memasuki fase “ketidakpastian ekstrem”.
Sejak perang dimulai pada akhir Februari 2026, Iran secara efektif mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sejumlah kapal tanker bahkan dilaporkan menjadi sasaran serangan. Dalam konteks ini, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pengamanan jalur tersebut bukan hanya tanggung jawab Amerika Serikat.
“Ada banyak negara yang harus siap mengambil peran di jalur perairan kritis ini… bukan hanya Angkatan Laut AS,” kata Hegseth dalam konferensi pers yang dikutip CNBC (31 Maret 2026). Ia bahkan menyindir kemampuan sekutu, termasuk Angkatan Laut Inggris, untuk turut menjaga keamanan jalur tersebut.
Klaim “Perubahan Rezim”
Di sisi lain, Hegseth menyatakan bahwa “perubahan rezim telah terjadi” di Iran, meskipun tanpa penjelasan rinci. Ia menegaskan bahwa AS tetap membuka ruang diplomasi, namun tidak menutup opsi militer. “Kami ingin tetap tidak dapat diprediksi,” ujarnya.
Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengonfirmasi bahwa kapal amfibi USS Tripoli, yang membawa ribuan marinir, telah berada di Samudra Hindia—memicu spekulasi tentang kemungkinan eskalasi operasi militer, termasuk opsi darat.
Di lapangan, konflik terus meluas. Media semi-resmi Iran melaporkan bahwa fasilitas desalinasi di Pulau Qeshm dihentikan operasinya setelah terkena serangan udara. Selain itu, sebuah kapal tanker Kuwait diserang di perairan dekat Dubai, mempertegas bahwa konflik telah merambah infrastruktur energi dan jalur distribusi global.
Risiko Global
Laporan BBC (31/3/2026) menilai pernyataan Trump mencerminkan perubahan strategi Washington yang mendorong sekutu untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam keamanan energi global. Namun, langkah ini juga berisiko memperluas konflik jika negara-negara Barat terlibat langsung dalam operasi militer di Selat Hormuz.
Di sisi lain, kritik Trump terhadap NATO —yang sebelumnya ia sebut “membuat kesalahan besar” karena tidak mendukung AS— menunjukkan potensi retaknya solidaritas Barat di tengah krisis global.
Dengan harga energi yang melonjak dan jalur distribusi yang terganggu, dampak konflik kini mulai terasa luas—mulai dari tekanan inflasi hingga risiko perlambatan ekonomi global, termasuk bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.

