Ancaman Militer AS-Iran Makin Intens, Bursa Asia Rontok
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Pasar saham Asia-Pasifik terjun bebas pada perdagangan Senin (23/3/2026). Indeks utama anjlok dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran saling melontarkan ancaman militer yang semakin intens.
Baca Juga
Ketegangan Memuncak, Trump Ancam Hantam Pembangkit Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka dalam 48 Jam
Indeks utama di Jepang dan Korea Selatan mencatat penurunan lebih dari 5%, mencerminkan kepanikan investor global terhadap potensi gangguan pasokan energi dan dampak lanjutan terhadap ekonomi dunia.
Dikutip dari CNBC, indeks Nikkei 225 merosot hampir 5%, sedangkan indeks luas Topix turun 4,4%. Di Korea Selatan, Kospi anjlok lebih dari 6%, dan Kosdaq melemah hampir 5%.
Tekanan pasar dipicu oleh ultimatum Presiden AS Donald Trump yang menyatakan akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam—jalur vital bagi distribusi energi global.
Iran merespons keras. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran akan dibalas secara langsung dengan serangan terhadap infrastruktur minyak dan energi di seluruh kawasan.
Ia juga memperluas ancaman dengan menyasar entitas keuangan global, termasuk pemegang obligasi pemerintah AS, yang dianggap mendukung pembiayaan militer Washington. Seluruh infrastruktur energi di kawasan akan menjadi target sah dan akan dihancurkan tanpa bisa diperbaiki, dan harga minyak akan tetap tinggi dalam jangka panjang.
Di pasar komoditas, harga minyak relatif stabil pada awal perdagangan, namun tetap berada di level tinggi. Brent turun tipis 0,25% ke US$111,97 per barel, sementara WTI melemah 0,6% ke US$97,64 per barel.
Selisih harga antara Brent dan WTI melebar hingga lebih dari US$14 per barel—tertinggi dalam beberapa tahun terakhir—menandakan meningkatnya tekanan di pasar energi global.
Baca Juga
AS-Iran Saling Ancam, Harga Minyak Diperkirakan Terus Bergolak
Analis Strategas Research, Chris Verrone, menyebut kondisi ini sebagai indikasi “puncak intensitas krisis minyak”, yang mencerminkan ekspektasi pasar terhadap konflik yang berkepanjangan.
Di kawasan lain, indeks Australia S&P/ASX 200 turun lebih dari 1,8%. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Index juga mengindikasikan pembukaan yang lebih rendah.

