Iran Serang Dekat Fasilitas Nuklir Israel, Lebih dari 100 Orang Terluka
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memasuki hari ke-22 sejak pecah pada 28 Februari 2026, dengan eskalasi terbaru berupa serangan rudal Iran ke wilayah selatan Israel yang dekat dengan fasilitas nuklir strategis di Dimona. Serangan tersebut menandai fase baru dalam konflik, di mana kedua pihak mulai secara terbuka menargetkan infrastruktur sensitif dan simbol kekuatan strategis masing-masing.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, AFP, dan Associated Press (AP) yang diterbitkan pada 21 Maret 2026, Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke kota Dimona—lokasi pusat riset nuklir utama Israel—serta kota Arad di sekitarnya. Otoritas penyelamat Israel melaporkan lebih dari 100 orang terluka, dengan rincian sedikitnya 88 korban di Arad dan 39 korban di Dimona, termasuk seorang anak berusia 10 tahun dalam kondisi kritis akibat luka serpihan ledakan.
Serangan ini disebut sebagai aksi balasan Iran atas dugaan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas pengayaan nuklir Natanz di Iran pada hari yang sama. Media pemerintah Iran menegaskan tidak terjadi kebocoran radioaktif dari fasilitas tersebut, namun menegaskan bahwa serangan balasan merupakan bagian dari strategi “respon setimpal” dalam konflik yang terus meningkat.
Baca Juga
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut malam serangan tersebut sebagai “malam yang sulit”, seraya menegaskan Israel akan melanjutkan operasi militernya terhadap Iran. Sejak awal perang, serangan udara gabungan AS–Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.500 orang di Iran, termasuk lebih dari 200 anak-anak, menurut data media pemerintah Iran yang dikutip Al Jazeera (21/3/2026).
Militer Israel mengakui bahwa sistem pertahanan udara mereka sempat diaktifkan, namun gagal mencegat seluruh rudal yang masuk. Petugas pemadam kebakaran Israel menyebut terdapat dua hantaman langsung rudal balistik dengan hulu ledak berbobot ratusan kilogram yang menghantam area permukiman, menyebabkan kerusakan luas dan runtuhnya bangunan.
Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak menemukan indikasi kerusakan pada fasilitas nuklir Shimon Peres Negev Nuclear Research Center di Dimona, serta tidak mendeteksi adanya peningkatan radiasi di wilayah tersebut. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyerukan penahanan militer maksimum, khususnya di sekitar fasilitas nuklir, guna mencegah risiko bencana yang lebih luas.
Laporan lapangan Al Jazeera dari Tepi Barat menyebutkan sedikitnya tiga titik dampak di wilayah Dimona, termasuk satu bangunan tiga lantai yang runtuh total. Rekaman video yang diverifikasi menunjukkan ledakan besar setelah rudal menghantam kota tersebut, memicu kebakaran di beberapa lokasi.
Di sisi lain, Israel pada hari yang sama juga mengumumkan telah menyerang fasilitas riset di Universitas Malek Ashtar di Teheran, yang dituduh digunakan untuk pengembangan komponen senjata nuklir dan rudal balistik. Iran kembali menegaskan bahwa fasilitas Natanz menjadi target serangan sebelumnya, meski Israel tidak secara resmi mengonfirmasi keterlibatannya.
Baca Juga
Ketegangan Memuncak, Trump Ancam Hantam Pembangkit Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka dalam 48 Jam
Laporan Reuters (21 Maret 2026) dan CNN (20–21 Maret 2026) juga menguatkan bahwa konflik kini telah bergeser ke arah “targeting of energy and nuclear assets”, dengan kedua pihak berusaha menciptakan efek deterensi strategis. Reuters mencatat bahwa serangan terhadap fasilitas energi dan nuklir berpotensi memperluas konflik menjadi krisis regional, sementara CNN menyoroti bahwa eskalasi ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak global yang sempat menyentuh US$115 per barel.
Analis senior di Centre for Middle East Strategic Studies di Teheran, Abas Aslani, menyebut strategi Iran sebagai pendekatan “eye-for-an-eye” atau setimpal, yang bertujuan memperkuat kredibilitas ancaman dan membangun keseimbangan baru dalam jangka panjang, bukan sekadar memaksakan gencatan senjata.
Dengan kedua pihak kini mulai menargetkan fasilitas nuklir dan energi, konflik Iran–Israel tidak lagi sekadar perang militer konvensional, melainkan telah berkembang menjadi perang strategis berisiko tinggi yang berpotensi memicu krisis keamanan global yang lebih luas.

