Serang Iran dengan Dalih Hentikan Nuklir, Trump Ungkap Dendam Kesumat AS pada Iran
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, Investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald J Trump mengungkapkan bahwa kolaborasinya bersama Israel menyerang sejumlah kota di Iran termasuk Teheran adalah sebuah langkah untuk menghentikan Iran melanjutkan pengayaan uranium dan mengembangkan senjata nuklir. Sebuah alasan yang relatif sama ketika Amerika Serikat dinakhodai oleh George W Bush saat akan meluluhlantakkan Irak di akhir tahun 1990-an lewat operasi Dessert Storm.
Namun dalam kesempatan pernyataan resminya, Trump juga mengungkap dendam kesumat yang lama disimpan oleh Amerika Serikat atas Iran. Dalam pernyataan resminya, Sabtu (28/2/2026), lewat video conference yang dilansir oleh Gedung Putih, Trump menyampaikan kekesalannya bahwa aktivitas Iran selama puluhan tahun telah secara langsung membahayakan Amerika Serikat, pasukan militer AS, pangkalan-pangkalan luar negeri, serta sekutu-sekutu Washington di berbagai belahan dunia.
Baca Juga
Israel Luncurkan Serangan Pendahuluan ke Iran, Ketegangan Timur Tengah Meningkat
“Selama 47 tahun, rezim Iran telah meneriakkan “Kematian bagi Amerika” dan melancarkan kampanye tanpa henti berupa pertumpahan darah dan pembunuhan massal, yang menargetkan Amerika Serikat, pasukan kami, dan warga sipil tak berdosa di banyak negara,” ujarnya.
Berikutnya Trump menyampaikan cerita luka lama Amerika Serikat mengenai penyanderaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran, dengan puluhan warga Amerika di dalamnya selama 444 hari. “Salah satu tindakan pertama rezim tersebut adalah mendukung pengambilalihan secara brutal Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran, dengan menyandera puluhan warga Amerika selama 444 hari,” tuturnya.
Berikutnya ia menyampakan cerita kelam pengeboman barak Marinir AS di Beirut tahun 1983 yang menewaskan 241 personel militer Amerika. Trump menuduh langkah pengeboman dilakukan oleh kekuatan politik di Beirut yang merupakan proksi atau perpanjangan tangan Iran.
“Pada tahun 2000, mereka mengetahui dan kemungkinan terlibat dalam serangan terhadap USS Cole yang menyebabkan banyak korban tewas. Pasukan Iran juga membunuh dan melukai ratusan anggota militer Amerika di Irak,” imbuh Trump.
Trump pun menyebut proksi-proksi rezim Iran terus melancarkan serangan yang tak terhitung jumlahnya terhadap pasukan Amerika yang ditempatkan di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, termasuk terhadap kapal angkatan laut Amerika dan kapal komersial di jalur pelayaran internasional.
Baca Juga
Trump: Garda Revolusi Menyerahlah, Bagi Masyarakat Iran Ambil Alihlah Pemerintahan Kalian
“Ini adalah teror massal, dan kami tidak akan mentoleransinya lebih lama lagi. Dari Lebanon hingga Yaman, serta dari Suriah hingga Irak, rezim ini telah mempersenjatai, melatih, dan mendanai milisi teroris yang telah membasahi bumi dengan darah dan kehancuran,” tegasnya.
Terakhir, masih soal proksi Iran, Trump menyebut Hamas sebagai pihak yang melancarkan serangan keji pada 7 Oktober terhadap Israel, dan disebutnya telah membantai lebih dari 1.000 warga sipil tak berdosa, termasuk 46 warga Amerika, serta menyandera 12 warga negara AS. “Serangan itu sangat brutal, sesuatu yang belum pernah disaksikan dunia sebelumnya. Iran adalah sponsor terorisme negara nomor satu di dunia dan baru-baru ini telah membunuh puluhan ribu warganya sendiri di jalanan saat mereka melakukan aksi protes,” tutur Trump.
Dalam serangan yang digelar dengan duet bersama Israel hari ini, Sabtu (28/2/2026), Trump pun meminta pasukan Garda Revolusi Islam Iran untuk menyerah, atau akan dihancurkan. Sementara untuk warga Iran, ia mendorong mereka untuk segera beraksi untuk mengambil alih pemerintahan Iran.
"Ketika kami selesai, ambillah alih pemerintahan kalian. Pemerintahan itu akan menjadi milik kalian untuk diambil. Ini kemungkinan adalah satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi," selorohnya.
Iran Hostage Crisis
Sekadar informasi, soal penyanderaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran terjadi pada akhir 1979 hingga awal 1981, dan merupakan salah satu krisis diplomatik paling serius dalam sejarah hubungan Amerika Serikat dan Iran. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Iran Hostage Crisis.
Peristiwa ini terjadi pada 4 November 1979, tidak lama setelah Revolusi Islam Iran yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi dan membawa ulama Syiah berpengaruh Ayatollah Rohullah Khomeini ke tampuk kekuasaan.
Saat itu, hubungan Iran dan Amerika Serikat memburuk drastis karena Washington memberikan izin masuk kepada Shah yang telah digulingkan untuk menjalani perawatan medis di Amerika Serikat. Langkah ini memicu kemarahan luas di Iran, di mana Shah dianggap sebagai simbol tirani yang didukung AS selama puluhan tahun.
Sekelompok mahasiswa garis keras yang menamakan diri “Mahasiswa Pengikut Garis Imam” menyerbu kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran dan menyandera para diplomat serta staf kedutaan. Dalam penyerbuan tersebut, 66 warga Amerika ditahan. Sebagian dibebaskan dalam waktu singkat, namun 52 orang lainnya tetap disandera dan ditahan selama 444 hari.

