Emas Anjlok Hampir 10% dalam Sepekan, Sinyal Koreksi atau Peluang Akumulasi?
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id — Harga emas mengalami tekanan tajam dan mencatatkan pekan terburuk dalam 15 tahun terakhir. Saatnya keluar atau justru mulai masuk?
Kontrak berjangka emas ditutup turun 0,7% ke level US$4.574,90 per ons pada Jumat (20/3/2026), memperpanjang pelemahan mingguan hingga 9,6%—penurunan terbesar sejak September 2011. Koreksi ini menempatkan emas di jalur penurunan bulanan terdalam sejak krisis keuangan global 2008.
Baca Juga
Emas dan Perak Dilanda Aksi Jual di Tengah Ketegangan Global
Tekanan juga merembet ke perak. Harga kontrak berjangka logam tersebut anjlok lebih dari 2% ke US$69,66, mencatat level terendah sejak Desember. Dalam tiga pekan terakhir, perak telah merosot lebih dari 14%, mempertegas tren pelemahan di sektor logam mulia.
Namun di balik koreksi tajam ini, terdapat dinamika yang lebih kompleks. Sepanjang 2026, emas masih mencatat kenaikan lebih dari 5%, mencerminkan reli kuat yang terjadi sebelum pecahnya konflik di Teluk Persia.
Gejolak geopolitik menjadi pemicu utama volatilitas. Eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengguncang pasar energi global, mendorong harga minyak menembus US$112 per barel. Lonjakan ini tidak hanya meningkatkan tekanan inflasi, tetapi juga mengubah preferensi investor terhadap aset.
Alih-alih menguat sebagai aset safe haven, emas justru terkoreksi. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh likuiditas dan posisi teknikal dibanding narasi perlindungan risiko semata.
Seiring meningkatnya ketidakpastian, investor global cenderung melakukan aksi ambil untung setelah reli panjang yang terjadi sepanjang 2025.
Aksi Profit Taking
Analis SP Angel, Arthur Parish, menilai penurunan tajam emas saat ini lebih disebabkan oleh unwinding posisi spekulatif.
Reli panjang menjelang serangan ke Iran pada akhir Februari menciptakan lonjakan posisi berbasis momentum. Kini, posisi tersebut mulai dilepas secara agresif.
“Pergerakan itu kini hampir sepenuhnya berbalik. Banyak transaksi berbasis momentum yang terurai,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Pada 2025, emas dan perak masing-masing melonjak 66% dan 135%, menarik masuk berbagai jenis investor—mulai dari hedge fund sistematis hingga investor ritel. Namun karakter dana ini cenderung jangka pendek dan oportunistik.
Saat sentimen berubah, arus dana pun berbalik cepat.
Peran Bank Sentral
Meski investor jangka pendek keluar, fondasi jangka panjang emas dinilai masih solid. Sejak konflik Rusia-Ukraina dan pembekuan aset Rusia, bank sentral global meningkatkan akumulasi emas sebagai diversifikasi cadangan.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perang AS-Israel vs Iran dan Inflasi yang Memburuk
Parish menilai, fase awal reli emas didorong oleh pembelian bank sentral, sementara lonjakan berikutnya dipicu oleh investor ritel dan momentum pasar. Kini, keluarnya “uang panas” justru bisa menjadi fase konsolidasi yang sehat sebelum reli berikutnya.
Toni Meadows dari BRI Wealth Management menegaskan bahwa harga emas tidak bergerak semata-mata karena ketakutan jangka pendek. Ia menyebut adanya “fear premium” dalam harga emas, namun menekankan bahwa tren jangka panjang tetap menjadi faktor utama. “Emas bukan lindung nilai harian terhadap setiap gejolak pasar. Pergerakannya lebih didorong tren jangka panjang,” ujarnya.
Artinya, koreksi saat ini belum tentu mencerminkan perubahan fundamental, melainkan penyesuaian pasar setelah reli ekstrem.
Menunggu Arah Baru
Dengan pasar saham AS juga mulai melemah dan mendekati fase koreksi, serta harga minyak yang tetap tinggi, volatilitas lintas aset diperkirakan masih akan berlanjut.
Bagi investor, kondisi ini menghadirkan dilema klasik: menghindari risiko jangka pendek atau memanfaatkan koreksi untuk akumulasi.
Yang jelas, arah emas selanjutnya akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: eskalasi geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, dan perilaku investor institusional.

